Bunda dan Remaja Melangkah Bersama Menghadapi Dominasi Liberalisasi, Kembali ke PangkuanSyari’ah
HTI-Press. Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Dewan Pimpinan Daerah (MHTI DPD) II Kota Cimahi menggelar Talkshow “Bunda dan Remaja Melangkah Bersama Menghadapi Dominasi Liberalisasi, Kembali ke Pangkuan Syari’ah” Ahad (8/2) di Cimahi. Acara dihadiri 221 peserta yang berasal dari majlis ta’lim, staf pengajar SMP/SMU, tokoh-tokoh ormas, siswi SMP/SMU dan mahasiswa serta masyarakat umum.
Acara dibuka Ketua MHTI DPD II Kota Cimahi Rima, S.P dan pemutaran film yang menampilkan gambaran remaja masa kini. Talkshow yang dipandu Seli Rosalin, S.Si (aktivis MHTI) menghadirkan pembicara Istri Wakil Walikota Kota Cimahi sekaligus Tim Penggerak PKK Kota Cimahi dr. Amisani Rachmat, Psikolog Elya Munsky Prestasi, S.Psi dan Aktivis MHTI Ustazah Ir. Rina Komara.
dr. Amisani menjelaskan perempuan harus menyadari kodratnya dan kembali ke fitrah yang telah ditetapkan Allah SWT. Ini bukan berarti perempuan harus terkungkung di dalam rumah atau hanya beraktifitas di majlis ta’lim. “Para perempuan harus mengetahui kondisi masyarakat. Para ibu hendaknya dibekali pemahaman Islam, sehingga terwujud keimanan sebagai fondasi bagi keluarga mereka,”tambah dr.Amisani. Pondasi paling kuat dalam keluarga adalah agama. Seorang ibu harus menjadi sahabat bagi anaknya. Ibu harus pandai memenej keluarga dengan rajin menuntut ilmu.
Elya Munsky P, S.Psi memaparkan kondisi remaja dan dinamika kehidupan masa remaja. Para bunda dituntut mengenal dan memahami betul kondisi remaja, sehingga dapat menentukan sikap yang tepat dalam menghadapi mereka. “Pada saat memberikan pemahaman Islam kepada remaja jangan menggunakan cara dengan menakuti-nakuti, tapi gunakan cara yang lebih mampu menyenangkan mereka. Lakukan komunikasi yang baik terhadap remaja. Jangan berupa kritikan,” kata Elya, S.Pi. Seorang ibu harus punya ilmu, kreatif dan gaul.
Ustazah Ir. Rina Komara menjelaskan asal mula paham kebebasan. Paham kebebasan bukan berasal dari Islam, tapi dari ideologi kapitalisme. Ideologi ini tengah menggempur kaum muslimin, khususnya remaja. Ir.Rina menjelaskan dengan sangat rinci empat jenis kebebasan yaitu; kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berperilaku dan kebebasan kepemilikan berikut contoh-contohnya. “Ibu dan remaja harus menjadi cerdas, berkualitas sehingga mampu melangkah bersama menghadapi gempuran liberalisasi. Caranya yaitu dengan BAA (Belajar, Amalkan dan Ajarkan) dan semua ini tentu saja membutuhkan pembinaan yang berkesinambungan,” tegasnya.
Pada sesi diskusi peserta nampak sangat antusias, namun karena dibatasi waktu, banyak peserta yang tak bisa mengutarakan pendapatnya. Sebagian besar peserta memahami perbandingan kondisi remaja yang tidak Islami dengan Islami. Disamping apa yang harus dilakukan sebagai seorang remaja Islam. Sementara bagi sang bunda, mereka memahami bagaimana seharusnya bersikap kepada para remaja dan keharusan mereka untuk membekali diri dengan ilmu termasuk tsaqofah Islam.
Acara ini disemarakkan tayangan film “UMMI”, kisah teladan, musikalisasi puisi dan Door Prize. Acara ditutup dengan do’a oleh Aktivis MHTI Nur Aidha, S.S. (mhti-cimahi)
Alhamdulillah acara berjalan lancar…semoga follow up nya segera berlangsung ya…
AllahhuAkbar…
wewww….keyen…subhanallah!
tetap semangat….Allahu Akbar
Maju terus muslimah pejuang syari’ah dan khilafah…rapatkan barisan, bulatkan tekad, raih segera kemuliaan Islam.Allohu Akbar…
ass..
sadarkanlah para remaja yg skrng lg terkontminasi libralisasi dg syariah n khilafah…wslm.