Membincang Pendidikan Ideal
HTI Perss. Jakarta. Talk Show Pendidikan Islam pada era ketiadaan khilafah menjadi acara pembuka dalam Pameran Khilafah dan Pendidikan di Gedung Perwira Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017). Menghadirkan pembicara Prof. Suyatno Rektor UHAMKA, Ismail Yusanto Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Okay Pala Media Representative Hizbut Tahrir Eropa, Ustadz Sukron Muhab Jaringan Sekolah Islam Terpadu, dan Dr. Nazreen Nawas Direktur Divisi Muslimah Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir.
Tantangan terbesar dalam pendidikan di Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia, adalah bagaimana pendidikan memiliki nilai ideologi Islam sehingga bisa menghasilkan output yang mumpuni. Yakni, melahirkan manusia yang bersyakhsiyah Islam. Seiring dengan gencarnya arus sekularisasi dan liberalisasi terhadap dunia pendidikan, muncullah para penggerak pendidikan Islam di Indonesia, yang serius memikirkan dan menyelenggarakan pendidikan agar melahirkan generasi yang shalih shalihah, dan peduli umat. Senantiasa menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi bagi persoalan kehidupan.
Demikian juga animo masyarakat terhadap pendidikan Islam makin meningkat. Penolakan terhadap pendidikan yang bertentangan dengan Islam juga semakin meningkat. Sehingga ketika para penggerak pendidikan mendirikan sekolah-sekolah Islam, masyarakat menyambut dengan antusias.
Prof. Suyatno menyampaikan, bahwa sampai saat ini terjadi hegemoni pendidikan Barat terhadap pendidikan Islam. “Muslim di Indonesia belum ideologis, melakukan shalat namun perilaku dan perbuatannya belum secara kaffah menunjukkan Islam kaffah,” ungkapnya.
Sementara itu, Sukron mengatakan bahwa sekulerisme, liberalisme, kapitalisme telah mewarnai gaya hidup kaum muslimin. Ini tantangan yang membuat mimpi, bagaimana mengembalikan pendidikan generasi ke depan pada masa keemasan Islam.
Ismail Yusanto, yang juga pendiri salah satu Sekolah Islam Terpadu di Indonesia, menegaskan bahwa persoalan pendidikan mesti dikembalikan kepada dua hal. Pertama, tujuan Allah menciptakan manusia adalah sebagai Abdullah. Hamba Allah yang taat kepada Allah baik pemikirannya maupun perilakunya, atau berkepribadian Islam. Kedua, Allah menciptakan manusia sebagai khalifah fil ardh, yaitu misi untuk memakmurkan bumi dengan ilmu untuk mempermudah sarana kehidupan dengan menguasai saintek.
“Laa izzata ilal Islam. Tidak kemuliaan tanpa Islam. Melahirkan anak-anak yang shalih shalihah peduli terhadap umat untuk menyelamatkannya di dunia dan akhirat,” kata Ismail.
Kondisi pendidikan di Eropa seperti yang disampaikan Okay Pala telah demikian carut marut, menghasilkan pemuda LGBT yang sudah menjadi gaya hidup. Tantangan sistem pendidikan di Barat adalah budaya yang bertentangan dengan ideologi Islam. Seperti pemaksaan isu kebebasan, termasuk LGBT di kurikulum sekolah.
Dr. Nazreen menambahkan bahwa Islam seharusnya menjadi solusi, bukan sebagai ancaman. Tantangan yang dihadapi perempuan saat ini, diantaranya adalah bagaimana menempatkan standard hidupnya. Seharusnya yang dijadikan standard kehidupan adalah aqidah Islam dan kembali pada masa keemasan khilafah Islam.
“Serangan yang massif terhadap Islam, tidak hanya terfokus pada pendidikan saja, tapi juga dalam masalah institusi politik khilafah Islam yang menaungi pendidikan khilafah,” tegas Nazreen.
Fika Komara, sebagai host menutup talkshow dan menegaskan bahwa membangun pendidikan Islam harus dari aqidah Islam. Sehingga akan menghasilka anak dan generasi yang bersyakhsiyah Islamiyyah, menjadi pemimpin, pembangun peradaban, khoiru ummah. “Dan Islam akan kembali memimpin dunia,” tutupnya.[]