Surat Dari Istri Dr Iftikhar (Pakistan)

Senin, 5 September, 2016

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Saya memulai surat ini dengan menyampaikan salam terhangat, dan tulus kepada anda yang telah meluangkan waktu dan melakukan segala upaya untuk mengangkat kasus suami saya, Dr. Iftikhar. Semoga Allah (Swt) membalas kebaikan Anda semua dan semoga semua orang yang telah menolak penindasan ini, terus melanjutkan dan meningkatkan upayanya untuk melakukan hal ini.

Suami saya Dr. Iftikhar adalah seorang dokter yang bekerja baik sebagai pencatat obat-obatan orang dewasa maupun sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi fakultas kedokteran. Dia adalah orang yang memiliki ijiwa yang lembut dan tidak suka berdebat atau bersengketa, hingga dia tidak menaikkan suaranya bahkan dalam adu argumentasi yang memanas.

Dr Iftikhar memiliki tiga orang anak. Anak-anaknya terpengaruh secara kejiwaan sejak dia dipenjara. Anak kami yang tertua, seorang laki-laki, bernama Muaaz, sering terbangun di malam hari, dan memanggil ayahnya. Putri kami sering berhenti makan dan saat ini menangis terus-menerus selama tiga hari, dan meminta untuk mengunjungi ayahnya. Dan anak bungsu kami yang lahir setelah suami saya ditahan belum begitu merasakan cinta dan kasih sayang seorang ayah. Anak-anak terus bertanya kapan ayah mereka bisa pulang ke rumah.

Pada tanggal 26 Mei 2015, para preman rezim menangkap suami saya di luar Rumah Sakit Ghurki di Lahore, di mana dia sedang berobat untuk penyakit ususnya yang kronis, kolitis ulserativa. Mereka menangkapnya meskipun penyakitnya membuat tubuhnya sangat lemah hingga dia merasakan rasa sakit hingga ke tulang. Mereka menangkapnya dan menginterogasinya dan mengancamnya dan kemudian memindahkannya ke penjara, padahal dia sedang dalam kondisi kesehatan yang buruk.

Mereka kemudian membuatnya terkapar  hingga dia tidak mendapatkan makanan  dan obat-obatan yang diperlukan, yang merupakan tindakan yang tidak berperasaan, dengan mengabaikan hak-haknya sebagai manusia yang Allah (Swt) telah berikan.

Kondisi Dr. Iftikhar teliha memburuk hingga tidak ada pilihan lain kecuali dilakukan operasi dan pengadilan memutuskan untuk memindahkannya ke rumah sakit. Meskipun hal ini telah menjadi hal yang mendesak, rezim melarangnya dan menunda-nunda masalah ini.  Penolakan selama berbulan-bulan untuk mendapatkan operasi memaksanya untuk menggunakan steroid hingga melemahkan tulang-tulangnya dan menyebabkan katarak mata hingga dia hanya dapat menggunakan 20% penglihatannya.

Dan bahkan setelah operasi berlangsung, suami saya tetap tidak sadar di Unit Perawatan Intensif, dan para penindas berhati batu itu tetap bersikeras untuk memborgolnya secepat mungkin! Para preman rezim itu tetap menghalang-halangi ketika saatnya bagi Dr Iftikar untuk mendapatkan pengobatan hingga saat ini. Setelah dioperasi dia mendapatkan pendarahan dalam dan kemudian mengalami luka karena infeksi. Sekarang, dia merasakan demam yang terus-menerus dan merasa mual hingga dia tidak bisa menelan makanan hingga perlu dikeluarkan nanah dari dalam tubuhnya.

Tidak ada keraguan atas permusuhan rezim terhadap Islam, yang terwujud pada perlakuan kejam terhadap seorang pria yang telah mengorbankan semua yang dimilikinya demi Tuhan-Nya, dengan meninggikan kata-kata kebenaran untuk mengembalikan Islam dalam kekuasaan dan sebagai sebuah negara. Hal ini karena Dr. Iftikhar adalah seorang penganjur Khilafah hingga tidak ada pengadilan yang memberikan bantuan apapun kepadanya.

Saya berdoa kepada Allah (Swt) semoga Dr. Iftikhar dibebaskan dari penindasan dan semoga dia bisa berdiri di hari kiamat dimana Tuhan-Nya merasa ridho kepadanya. Aamiin.

إِن يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ

 

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu”  (QS Ali Imran: 160)

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS. Ali Imran: 173)

Assalamu alaikum

Istri Dr. Iftikhar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*