Sejak diluncurkannya operasi sisi kanan di (bagian barat) Mosul, berbagai kantor berita berbicara tentang penghancuran besar-besaran di kota dan banyaknya jumlah korban tewas di antara warga sipil, di mana berdasarkan pengamatan bahwa pasukan Irak, pasukan koalisi, dan mobilisasi rakyat telah menggunakan kekerasan yang berlebihan dalam pertempuran ini. Dan pembantaian terbaru yang berlangsung pada tanggal 17/3, di mana pasukan AS membombardir perumahan baru di Mosul, sehingga akibatnya sejumlah besar warga sipil yang berada di dalamnya tewas. Sementara laporan tentang jumlah korban tewas masih simpang siur, antara 200 hingga 500 orang, bahkan masih banyak jasad korban tewas yang berada di bawah puing-puing bangunan. Sementara itu pimpinan pasukan AS mengatakan bahwa pemboman itu dilakukan atas permintaan pasukan Irak, juga yang menetapkan target sasaran pemboman, dan ada 27 rumah yang telah dihancurkan dalam pemboman itu. Dan tentang penghancuran di sisi kanan (bagian barat) ini, Osama al-Nujaifi, Wakil Presiden Republik mengatakan: Seluruh lingkungan hancur semuanya dan daerah di sisi kanan (bagian barat) rata dengan tanah.
Di sisi lain, seorang juru bicara pasukan Irak mengatakan bahwa penyebab banyaknya korban dalam pemboman itu akibat dari bahan peledak yang disembunyikan oleh organisasi negara (ISIS), yang dibombardir oleh pesawat koalisi, yaitu pada saat berupaya melarikan diri dari tanggung jawab. Sementara itu, Kementerian Pertahanan telah membentuk sebuah komite untuk mencari penyebab tentang banyaknya jumlah korban tewas dari warga sipil.
Observatorium Irak untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa sepuluh ribu rumah telah hancur, dan lebih dari empat ribu warga sipil di sisi kanan (bagian barat) tewas sejak dimulainya sejumlah operasi militer.
Apa yang terjadi di Mosul bukanlah operasi pembebasan, melainkan kejahatan besar terhadap kaum Muslim di kota tersebut, seolah-olah apa yang terjadi di sana adalah kondisi yang sudah direncanakan sejak lama. Mengingat, setelah pendudukan rakyat Mosul memiliki sikap yang keras, tegas dan kokoh menghadapi pendudukan dan kroni-kroninya, serta menunjukkan perlawanan sengit terhadap pasukan pendudukan, terutama di sisi kanan (bagian barat), di mana derah ini telah menjadi kuburan bagi para penjajah, bahkan ada beberapa daerah yang tetap kebal terhadap penjajah, sehingga kaum penjajah menyerangnya dengan kejam. Setelah masuknya organisasi negara (ISIS) pada Juni 2014 dengan keterlibatan pemerintah Maliki yang dirancang kaum penjajah, dan setelah berakhirnya peran organisasi negara (ISIS) di Mosul, maka pasukan AS melakukan pembalasan dengan cara apa saja. Oleh karena itu, kita menemukan bahwa pasukan keamanan Irak telah menggunakan cara terkejam dalam operasinya di sisi kanan (bagian barat) Mosul, dengan dukungan dan support dari pasukan koalisi (AS). Namun semua itu tidak akan pernah terjadi sekiranya negeri dan rakyat tidak diperintah oleh para antek kaum kafir penjajah dan tidak menerapkan hukum-hukum kufur.
Sungguh, pembebasan kaum Muslim dari penindasan para penguasanya, dan dari dominasi kaum kafir tidak akan bisa terwujudkan kecuali urusan mereka dikuasai oleh orang-orang yang menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dengan terlebih dahulu mendirikan Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah, di mana kabar gembira akan tegaknya kembali Khilafah sudah di depan mata, yang tegaknya akan menggoncang singgasana kekufuran dan para pengikutnya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (TQS al-Hajj [22] : 40).
Sumber: alraiah.net, 29/3/2017.
Hizbut Tahrir Indonesia Melanjutkan Kehidupan Islam
