Kepala Staf Gabungan Militer AS Jenderal Martin Dempsey mengatakan bahwa ada banyak indikasi yang menunjukkan keterlibatan al-Qaeda, dan berupaya mendukung oposisi Suriah untuk rezim Presiden Bashar al-Assad. Ia mengungkapkan bahwa “terlalu dini” berpikir untuk mempersenjatai oposisi; ia juga berpendapat bahwa kemungkinan intervensi apapun di Suriah akan “sangat sulit” .
Dalam sebuah wawancara dengan CNN, ia mengatakan bahwa bahwa “Ia menentang setiap manusia yang menetapkan dengan jelas identitas oposisi Suriah sekarang.” Dikatakan pula bahwa “Sekalipun telah ada gambaran yang lebih bagi Washington, maka masih terlalu dini untuk membuat keputusan mempersenjatai oposisi.”
Berbagai pernyataan AS mengenai Suriah, baik dari pejabat luar negeri, pertahanan atau Gedung Putih, semuanya berada dalam lingkup hegemoni AS yang tengan mengontrol rezim pengkhianat di Damaskus. Dalam hal ini, AS menggunakan semua kartu yang dimungkinkannya untuk mempertahankan kelangsungan hegemoni politiknya terhadap rezim Damaskus, dan menjamin kelangsungan ketundukannya yang hanya untuk AS, serta semua agendanya di wilayah tersebut, setelah runtuhnya Assad dan partainya. Oleh karena itu, berbagai pernyataan tersebut dapat dipahami dari beberapa aspek, di antaranya:
1 – Memberikan tenggat waktu baru bagi rezim Bashar al-Assad sehingga memumgkinkan bagi AS untuk mengatur alternatif dan untuk memastikan kesiapannya.
2 – Menghalangi setiap upaya Eropa untuk masuk ke dalam kekuasaan di Suriah dengan mempersenjatahi sebagian, atau dengan melakukan intervensi militer guna menyaingi AS di masa depan yang sangat tergantung pada rezim berikutnya.
3 – Memberikan kepada rezim yang bekuasa lisensi murni AS untuk meningkatkan serangannya yang membabi buta terhadap generasi Syam dengan dalih memerangi kelompok-kelompok bersenjata, termasuk al-Qaeda.
4 – Menyesatkan rakyat Amerika dan rakyat Eropa tentang alasan sebenarnya di balik lambatnya AS untuk mengambil keputusan apapun terhadap rezim yang berkuasa di Suriah.
5 – Dan peringatan AS ini juga dapat dipahami dari sisi ketakutan AS akat merapatnya orang-orang mukhlis di antara generasi umat Islam yang tengah mengembah bendera Khilafah bersama dengan para pemilik kekuatan di Damaskus, yang kemudian akan menerkam dan melenyapkan pemerintah-pro Amerika. Untuk itu, AS memperingatkan akan kelompok Islam politik yang berjuang untuk melenyapkan AS dan pengaruhnya dari wilayah itu.
Oleh karena itu, di tengah-tengah kegagalan politik yang diterapkan, dan kemandulan lembaga-lembaga internasional dan regional yang begitu telanjang, serta oposisi dengan ketergantungan dan loyalitas yang masih dipertanyakan, apakan orang-orang mukhlis di antara generasi tentara Suriah sadar bahwa mereka memiliki tugas dan kewajiban untuk mengakhiri semua pertengkaran ini? Apakah tidak cukup tetesan darah yang telah dipersembahakan oleh para pahlawan Syam untuk meraih kemerdekaannya dari rezim Assad yang mencerminkan ketundukan serta ketergantungannya kepada Barat?!
Mengapakah kalian tidak memberikan dukungan dan pertolongan kepada para pejuang yang mukhlis untuk memuliakan agama ini, serta memimpin dunia menuju tatanan dunia baru, yang akan mencetak kembali sejarah dengan huruf dan tinta emas, di mana di dalamnya ada kemulian nushrah (pemberian pertolongan) bagi kalian, wahai para perwira, sehingga kalian dinamai dengan kaum Anshar? [Abu Basil].
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 2/3/2012.
Hizbut Tahrir Indonesia Melanjutkan Kehidupan Islam
