HTI Press. Jakarta. Kondisi keumatan yang tengah terjadi di Indonesia mengundang keprihatinan para tokoh. Hal itu tercermin dalam Temu Tokoh Terbatas yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia (DPP HTI) pada 2 April 2015. “Saat ini isu radikalisme digunakan untuk menghancurkan kelompok Islam. Salah satu dampaknya adalah pemblokiran situs yang dicap radikal baru-baru ini,” ungkap Ketua DPP HTI Rokhmat S Labib.
Ia melanjutkan, “Ingat, saat pelantikan Presiden Jokowi, John Kerry mengatakan: ‘Kami ingin Indonesia sebagai pemimpin Muslim yang memerangi radikal Islam’. Itu yang disampaikan di depan media massa, apa yang dibicarakan di dalam tentu lebih kasar. Rezim sekarang menempatkan dirinya sebagai musuh Islam.”
Muhammad Ismail Yusanto menambahkan, “Apabila 22 situs itu tetap dibuka lagi, tetap saja hal ini menggambarkan bahwa sedang berlangsung upaya kriminaliasi Islam.”
Hasbi Ibrahim (Sekjen Laskar Anti Korupsi) menyatakan dengan tegas, “Bungkamisasi, kriminalisasi, monsterisasi atau apapun namanya menunjukkan bahwa rezim Orde Baru sedang bangkit lagi. Siapa saja yang menentang Jokowi yang didukung oleh konglomerat hitam itu niscaya akan dihabisi.”
Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Mashadi menegaskan, “Perlu kajian serius tentang ancaman yang kita hadapi. Timur Tengah saja berubah geopolitiknya. Stakeholder Indonesia adalah AS dan Cina. Jangan heran bila ada yang menyebutkan bahwa pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan dipengaruhi PKI, Kristen, dan Liberal.”
Para tokoh yang hadir sepakat bahwa isu ISIS dan radikalisme hanyalah merupakan alat untuk membungkam Islam dan para pengembannya. Mereka meminta masyarakat untuk tidak terjebak dengan isu tersebut. Karenanya, perlu memetakan tantangan riil umat Islam pada saat sekarang ini. Selain itu, mereka pun sepakat bahwa Indonesia sedang berada dalam ancaman neoliberalisme dan neoimperialisme.
Hadir dalam acara tersebut Djauhari Syamsuddin (Ketua Umum Sarikat Islam), Amin Lubis (Ketua Perti), Zulkifli (Ketua al-Ittihadiyah), Edi Mulyadi (Korps Mubaligh Jakarta), Hasbi Ibrahim (Laskar Anti Korupsi), Abdurrahman Safara, Sabili Raun (al-Ittihadiyah), Mashadi (mantan anggota DPR), dan dari HTI hadir Muhammad Ismail Yusanto, Rokhmat S Labib, M Rahmat Kurnia, Riza Rosadi, dan Budi Darmawan.[]
Hizbut Tahrir Indonesia Melanjutkan Kehidupan Islam
