Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin ‘Amr al-Awza’i. Ia seorang ulama besar di Syam yang terkenal tsiqah sekaligus ahli fikih terkemuka. (Thabaqât ibn Sa’ad, 7/477; Al-Hilyah, 6/135; Siyar ‘A’lam an-Nubula, 7/7; Tahdzîb at-Tahdzîb, 6/237).
Imam al-Awza’i lahir pada tahun 88 H. Ia lahir di Ba’labaka dan tumbuh-kembang di Kurk. Ia lalu pindah ke Beirut (Libanon) hingga wafat di sana pada tahun 157 H. Ia berarti hidup selama 69 tahun.
Al-Awza’i sudah dijadikan tempat bertanya tentang berbagai masalah fikih pada usia 13 tahun. Ini karena, sebagaimana dinyatakan Abdurrahman bin al-Mahdi, “Tak ada seorang pun di kalangan penduduk Syam yang paling memahami as-Sunnah selain al-Awza’i.”
Abdurrahman juga berkata, “Imam para ahli hadis itu ada empat: al-Awza’i, Malik, Sufyan ats-Tsauri dan Hammad bin Zaid.”
Maksudnya, imam ahli hadis pada zamannya adalah al-Awza’i di Syam, Malik di Madinah, Sufyan ats-Tsauri di Kufah dan Hammad bin Zaid di Bashrah. Selain mereka adalah Sufyan bin Uyainah di Makkah dan Ibn al-Mubarak di Khurasan.
Haql bin Ziyad juga berkata, “Al-Awza’i selama ini telah menjawab lebih dari 70 ribu masalah.”
Sufyan bin Uyainah juga menyebut al-Awza’i sebagai imam para ulama pada zamannya.
Muhammad bin Saad berkata, “Imam al-Awza’i adalah ulama yang sangat terpercaya, sangat amanah, sangat jujur. Ia memiliki banyak keutamaan dan kebaikan. Ia banyak menguasai hadis, ilmu dan fikih serta sangat pandai berhujjah.”
Di antara ulama yang mengambil ilmu atau berguru kepada Imam al-Awza’i adalah: Abu Ishaq al-Fazari, Abdullah bin al-Mubarak, Haql bin Ziyad, Abu al-‘Abbas al-Walid bin Muslim, Walid bin al-Mazid, Umar bin Abdul Wahid, ‘Amr bin Abi Salmah, Uqbah bin ‘Alqamah dan Muhammad Yusuf bin al-Faryabi (Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali asy-Syirazi, Thabaqât al-Fuqahâ, I/76).
Selain termasuk ulama terkemuka dalam hal keilmuan, al-Awza’i juga terkemuka dalam amal ibadah. Terkait ini, Abu Mashar berkata, “Al-Awza’i biasa menghidupkan malam-malamnya dengan banyak melakukan shalat tahajud, banyak membaca al-Quran dan banyak menangis. Bahkan sebagian penduduk Kota Beirut bercerita bahwa pada suatu hari ibunya memasuki rumah al-Awza’i dan memasuki kamar shalatnya. Ibunya mendapati tempat shalatnya basah karena airmata tangisan dia pada malam harinya (Al-‘Ibr, 1/227; Masyâhîr ‘Ulamâ’ al-Amshâr, hlm. 1425).
Al-Awza’i adalah imam para tâbi’ at-tabî’în. Ia adalah ulama yang menggabungkan ilmu dan adab, ibadah dan rasa takut kepada Allah, serta tak pernah mencari muka kepada manusia. Karena itu ia disegani oleh para penguasa dan pejabat (Ahmad Farid, Min A’lâm as-Salaf, 4/10).
Para ulama yang semasa dengan beliau juga mengatakan bahwa beliau adalah imam di bidang hadis dan fikh; juga seorang ulama yang berani berterus terang dalam mengemukakan kebenaran kepada para penguasa (An-Nawawi, Tahdzîb al-‘Asmâ’, 1/298).
Terkait keberaniannya, al-Awza’i suatu kali pernah ditanya oleh Abdullah bin Ali, “Apa pendapatmu tentang Khilafah yang telah diwasiatkan untuk kami (Ahlul Bait) dari Rasulullah saw.?” Ia menjawab, “Jika memang Kekhilafahan itu diwasiatkan oleh Rasulullah saw. kepada Ali, tentu Ali tak akan pernah membiarkan salah seorang pun untuk mendahului dirinya (untuk menduduki jabatan khalifah, pen.).”
Imam adz-Dzahabi berkata, “Abdullah bin Ali adalah seorang penguasa diktator yang banyak menumpahkan darah. Meski demikian, al-Awza’i berani menentang dia dengan kata-katanya yang haq. Ia tidak seperti para ulama sû’ yang menganggap baik kezaliman penguasa, memandang kebatilan sebagai kebenaran, atau berdiam diri tidak menyampaikan kebenaran padahal mereka mampu.”
Imam al-Awza’i pun pernah berkata, “Tidaklah berkumpul kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan melainkan dalam diri seorang Mukmin.”
Hal itu ia nyatakan karena ia mendapati saat itu ada kaum Syiah dan tandingan mereka yakni kaum Nawashib. Syiah adalah pengikut Ahlul Bait dan sangat memusuhi para Sahabat. Sebaliknya, Nawashib mengikuti Sahabat dan amat memusuhi Ahlul Bait.
Ada beberapa nasihat Imam al-Awza’i yang penting untuk kita renungkan. Ia, antara lain, pernah berkata, “Ada lima yang dilakukan dengan baik oleh para Sahabat Rasulullah saw. dan para tâbi’în, yaitu: senantiasa berpegang teguh dengan jamaah (Khilafah); selalu mengikuti sunnah; biasa memakmurkan masjid; biasa membaca al-Quran; biasa melakukan jihad fi sabilillah.”
Al-Awza’i pernah berkirim surat kepada sekelompok orang, “Bertakwalah kalian kepada Allah, wahai kaum Muslim. Terimalah nasihat dari para pemberi nasihat. Ketahuilah bahwa ilmu itu agama. Karena itu perhatikanlah apa yang kalian perbuat; dari siapa kalian mengambil agama ini; kepada siapa kalian mencontoh; dan siapa yang bisa memberi kalian rasa aman atas agama kalian ini.” (Jamaluddin bin Manzhur al-Anshari ar-Ruwayfi’i al-Ifriqi, Mukhtashar Târîkh Dimasyq li Ibn ‘Asakir, 4/37).
Abbas bin al-Walid bin Mazid bertutur bahwa ayahnya pernah berkata: Aku pernah mendengar al-Awza’i berkata, “Kamu harus selalu berpegang teguh pada atsar ulama salaf meski orang-orang menentang kamu. Sebaliknya, kamu harus hati-ihati dengan pendapat orang-orang sekarang meski mereka berusaha menghiasa kata-kata mereka untuk kamu.” (Al-Wadi’i, Nashr ash-Shahîfah, 1/30).
Al-Awza’i juga pernah berkata, “Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menyibukkan mereka dengan perdebatan dan melalaikan mereka dari amal nyata. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum, Dia akan menyibukkan mereka dengan amal dan menjauhkan mereka dari perdebatan.” (Al-Wadi’i, Nashr ash-Shahîfah, 1/48).
Imam al-Awzai sangat memuliakan para Sahabat. Terkait ini, ia pernah berkata kepada Baqiyah bin Walid, “Baqiyah, janganlah kamu menyebut-nyebut salah seorang sahabat Nabi saw. kecuali dengan kebaikan. Baqiyah, Ilmu itu adalah apa saja yang bersumber dari para Sahabat Nabi Muhammad saw. Apa saja yang tidak bersumber dari para Sahabat bukanlah ilmu. Pasalnya, para Sahabatlah yang telah menukilkan al-Quran dan as-Sunnah kepada kita. Kita pun memahami al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman mereka.”
Al-Awza’i juga pernah berkata, “Orang Mukmin itu sedikit berkata-kata, banyak beramal. Sebaliknya, orang munafik itu banyak berkata-kata, sedikit beramal.” (Ibrahim as-Samarqandi, Tanbîh al-Ghâfilîn bi Ahâdîts Sayyid al-Anbiyâ’i wa al-Mursalîn, 1\215).
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]
Hizbut Tahrir Indonesia Melanjutkan Kehidupan Islam
