Indonesia makin liberal. Indonesia makin terjajah. Inilah poin penting dari refleksi akhir tahun yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dalam catatan HTI ada beberapa peristiwa yang perlu dicermati selama tahun 2015, di antaranya adalah: BPJS (Negara Lepas Tanggung Jawab); Anak-Anak dalam Ancaman Kekerasan; Nestapa Pengungsi Rohingya; Islam Dipojokkan (Lain Singkil, Lain Tolikara); Hari Santri Nasional (Pengaburan dan Penguburan Sejarah); Gonjang-Ganjing Rupiah; Utang (Strategi Cina Cengkeram Indonesia); APBN 2016 (Makin Kapitalis dan Memeras Rakyat); Kabut Asap (Bencana yang Dibiarkan); Freeport (Simbol Penjajahan Kapitalisme di Indonesia); Serangan Paris (Membidik Islam; Pilkada Serentak Tak Beri Harapan.
Semua ini menunjukkan bahwa kita masih memiliki banyak masalah, yang tak bisa dilepaskan dari sistem liberal yang diadopsi Indonesia. Pada masa rezim Jokowi yang dicitrakan merakyat, justru liberalisme makin menguat. Padahal liberalisme merupakan pintu negara-negara imperialis untuk lebih mengokohkan penjajahannya di Indonesia. Jadilah Indonesia makin liberal dan makin terjajah.
Kita tentu tidak boleh larut dalam masalah, apalagi sekadar meratap dengan putus asa tanpa melakukan apa-apa. Justru inilah yang diinginkan negara-negara imperialis: kita berputus asa, lalu menerima tanpa daya penjajahan mereka. Padahal penjajahan adalah kejahatan besar yang harus dilawan dan kebangkitan Islam adalah kewajiban yang harus kita lakukan.
Untuk itu, apa yang menjadi rekomendasi HTI terkait Refleksi Akhir Tahun 2015, patut kita perhatikan. Pertama: Setiap penerapan sistem sekular, yakni yang tidak bersumber dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta, pasti akan menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi umat manusia. Instabilitas moneter, penguasaan sumberdaya alam negeri ini oleh kekuatan asing, maraknya korupsi di seluruh sendi di seantero negeri, kerusakan lingkungan, kriminalitas atau kekerasan yang menimpa anak dan remaja serta perempuan yang terjadi di mana-mana, juga ketidakadilan yang menimpa umat, adalah bukti nyata dari kerusakan dan kerugian itu. Belum lagi kezaliman yang diderita umat di berbagai negara. Semua ini semestinya menyadarkan kita untuk bersegera kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhai oleh Allah SWT, seraya meninggalkan semua bentuk sistem dan ideologi busuk, terutama kapitalisme yang nyata-nyata telah sangat merusak dan merugikan umat manusia.
Kedua: Demokrasi dalam teorinya adalah sistem yang memberikan ruang kepada kehendak rakyat. Dalam kenyataannya, itu hanya menjadi jalan bagi segelintir elit pemilik modal untuk berkuasa. Pemerintahan yang terbentuk di Pusat maupun Daerah, oleh karena balas budi atas dukungan finansial yang diterima, cenderung menggunakan kewenangannya untuk kepentingan para pemilik modal tersebut. Akhirnya, rakyat menjadi korban, baik karena terabaikan kepentingannya dalam layanan publik maupun akibat korupsi dan manipulasi anggaran negara.
Itulah yang terjadi saat ini di negeri ini. Ini tampak dari proses legislasi di Parlemen dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah di Pusat maupun Daerah, khususnya di bidang ekonomi dan politik yang sangat pro terhadap kepentingan pemilik modal domestik maupun asing. Kenyataan ini semestinya memberikan peringatan kepada umat Islam untuk tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan para pemilik modal. Ini juga peringatan bagi penguasa dimana pun untuk menjalankan kekuasaannya dengan benar amanah demi tegaknya kebenaran, bukan demi memperturutkan nafsu serakah kekuasaan dan kesetiaan pada kaum kapitalis.
Ketiga: Bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini, maka kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Zat Yang Mahabaik. Itulah syariah Islam. Pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu. Di sinilah esensi seruan “Selamatkan Indonesia dengan Syariah” yang gencar diserukan oleh HTI.
Keempat: Oleh karena itu harus ada usaha sungguh-sungguh dengan penuh keikhlasan dan kesabaran serta kerjasama dari seluruh komponen umat Islam di negeri ini untuk menghentikan sekularisme, liberalisme dan neoimperialisme, lalu menegakkan syariah dan khilafah. Hanya dengan sistem berdasar syariah yang dipimpin oleh seorang khalifah, Indonesia dan dunia benar-benar bisa menjadi baik. Syariah adalah jalan satu-satunya untuk memberikan kebaikan dan kerahmatan Islam bagi seluruh alam semesta. Dengan itu berbagai kerusakan, kezaliman dan penjajahan bisa dihapuskan di muka bumi.
Perjuangan ini tentu sangat berat dan tidak mudah. Namun, hal ini tidak boleh membuat kita putus asa apalagi pasrah dengan keadaan. Sesungguhnya kita memiliki kekuatan dahsyat yang tidak dimiliki oleh umat manapun selain umat Islam. Itulah kekuatan keimanan. Catatan KH Hafidz Abdurrahman, saat mengunjungi Turki untuk melihat jejak sejarah Khilafah patut kita renungi. Setelah melihat langsung benteng Konstantinopel yang kokoh, muncul satu pertanyaan dari KH Hafidz Abdurrahman, “Apa yang membuat benteng seangker dan sekokoh itu jatuh ke tangan pemuda umur 21 tahun? Jawabannya adalah akidah. Keyakinan. Kalau bukan karena yakin, bukan karena iman yang kuat akan pertolongan Allah SWT, mustahil pemuda 21 tahun itu bisa menaklukkan benteng yang luar biasa itu.
Akidahnyalah yang kemudian mendorong dia bertekad sekuat baja untuk mewujudkan bisyârah Nabi saw.: menaklukkan Konstantinopel. Ia lalu bekerja keras siang-malam. Dia menguasai 9 bahasa, ilmu kemiliteran, politik, geografi, manajemen, dan lain-lain. Semua itu ia topang dengan tahajudnya yang tidak pernah berhenti sejak balig serta munajatnya kepada Rabb-nya. Pada akhirnya, Allah SWT memilih dia sebagai orang yang berhak mewujudkan bisyârah Nabi-Nya. Dialah yang dinobatkan sebagai “sebaik-baik pemimpin”; pasukannya disebut sebagai “sebaik-baik pasukan.” Itulah Muhammad al-Fatih dengan pasukan Inkisyari yang luar biasa. Dia dan pasukannya telah menjelma menjadi makhluk yang luar biasa karena ketaatannya kepada Allah SWT.
Dengan keyakinan kita yang bulat kepada Allah SWT, sebagaimana keyakinan Muhammad al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel, meski harus berkali-kali berusaha, maka tidak ada yang mustahil. Semuanya bagi Allah SWT adalah mungkin. Alhasil, di sinilah kunci kesuksesan umat Nabi Muhammad saw. Keyakinan. Dengan keyakinan, tidak ada yang mustahil. Allâhu Akbar. [Farid Wadjdi]
Hizbut Tahrir Indonesia Melanjutkan Kehidupan Islam
