Pembaca yang budiman, berbeda dengan edisi khusus sebelumnya yang biasa diterbitkan pada bulan Maret, edisi khusus majalah al-Waie tahun ini diterbitkan pada bulan Agustus 2007 bersamaan dengan bulan Rajab 1427 H. Kita semua tahu, pada 27 Rajab 86 tahun silam Khilafah Utsmani di-abolish, begitu istilah yang digunakan oleh Mustafa Kemal Pasha untuk meruntuhkan khilafah. Kita tentu tidak bermaksud mengenang momen dramatis yang dampak buruknya bagi Dunia Islam terus terasa hingga sekarang. Peringatan 27 Rajab itu kini, mulai sejak beberapa tahun silam, telah kita ganti menjadi peringatan perjuangan penegakan kembali Khilafah Islam. Mengapa? Karena faktanya memang begitu Khilafah diruntuhkan, saat itu juga upaya untuk menegakkan-nya kembali telah mulai dilakukan, baik di Turki sendiri maupun di tempat lain seperti diselenggara-kannya kongres Khilafah di Kairo dan sebagainya. Karena itu, tepat sekali jika 27 Rajab diperingati sebagai momen perjuangan penegakan kembali Khilafah Islam. Karena yang dijadikan patokan adalah penanggalan Hijriah, maka dari sisi penanggalan Masehi, peringatan itu tentu akan terus bergeser. Jika tahun ini 27 Rajab bertepatan dengan tanggal 12 Agustus, tahun depan mungkin akan jatuh pada awal bulan Agustus atau akhir bulan Juli, begitu seterusnya, seperti momen-momen lain yang berpegang pada penanggalan Hijriah.
Edisi khusus majalah al-Wa‘ie kali ini bersamaan pula dengan hajat besar atau malah paling besar selama ini yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia, yakni Kongres Khilafah Internasional pada 12 Agustus 2007, atau bertepatan dengan 27 Rajab 1427 Hijriah. Konferensi yang insya Allah akan diselenggarkan di Stadion Gelora Bung Karno itu akan diikuti oleh sekitar 100 ribu peserta dari berbagai daerah di
Perhelatan besar ini, sekali lagi, tidaklah dimaksudkan untuk mengenang atau memperpanjang kesedihan, karena keruntuhan Khilafah memang tidak layak untuk terus diratapi; juga tidak untuk unjuk kekuatan atau kebesaran HTI, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah, dan sesungguhnya Zat Yang Mahabesar hanyalah Allah SWT. Konferensi Khilafah Internasional ini diselenggarakan tidak lain untuk terus memompakan kesadaran dan semangat umat agar terus berjuang menegakkan kembali payung Dunia Islam ini. Jika keruntuhan Khilafah sering disebut sebagai umm al-jarâ’im atau pangkal dari segala kejahatan, maka tentu tegaknya kembali Khilafah merupakan pangkal dari segala kebaikan dan kemaslahatan.
Diakui atau tidak, Dunia Islam saat ini dalam keadaan sangat terpuruk. Jika secara normatif umat Islam disebut Allah Swt. dalam al-Quran sebagai khayru ummah (umat terbaik) yang diturunkan di tengah-tengah umat manusia, maka secara faktual umat Islam saat ini—baik di bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial maupun budaya—bukanlah yang terbaik. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kemunduran itu. Salah satunya yang paling menonjol adalah karena perpecahan. Penyebab utama dari perpecahan itu tidak lain adalah karena di tengah-tengah umat tidak ada lagi figur dan institusi pemersatu, yakni Khalifah dengan institusi Khilafahnya. Jika diibaratkan, umat Islam sekarang ini bagaikan anak ayam kehilangan induknya, tak punya rumah pula. Karena itu, umat Islam bukan saja tidak mampu menegakkan kembali ‘izz al-Islâm wal Muslimîn, namun juga tidak mampu menahan setiap gempuran jahat dari luar. Perbedaan mazhab dan kelompok/organisasi gampang sekali memecah umat. Berbagai intervensi dari luar baik fisik maupun pemikiran amat mudah masuk ke dalam tubuh umat. Ibarat penyakit, paham sekularisme, kapitalisme, liberalisme, sinkretisme, materialisme bahkan nasionalisme juga dengan mudah merasuk ke dalam tubuh umat. Tak pelak lagi, 1,4 miliar umat Islam yang hidup terpecah di 57 negara bangsa (nation-state) saat ini bagaikan buih, tak memiliki kekuatan dan identitas.
Sebagai khayru ummah, kita tentu tidak boleh terus-menerus dalam keadaan terpuruk seperti itu. Salah satu ciri umat terbaik adalah cepat menyadari kesalahan dan segera bangkit memperbaiki diri. Karena itu, tepat sekali jika Konferensi Khilafah Internasional nanti kita jadikan sebagai moment of awakening (momen kebangkitan). Kehadiran puluhan ribu peserta dari berbagai daerah bahkan dari berbagai negara dengan pembicara dari berbagai organisasi/kelompok umat, selain dari HT sendiri, sebagaimana telah diungkap di atas, boleh disebut sebagai simbol kebangkitan dan persatuan umat. Beban berat perjuangan penegakan kembali syariah dan Khilafah tentu akan menjadi ringan dan akan terasa semakin ringan jika dilakukan secara bersama-sama.
Keberadaan beragam kelompok di tengah-tengah umat telah menjadi kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Tidak mengapa, karena memang demikianlah tabiat ajaran Islam yang memungkinkan terjadinya perbedaan, asal keragaman itu tidak menjadi pangkal perpecahan dan disorientasi dari perjuangan umat. Karena itu, penting sekali untuk memantapkan kesamaan visi dan misi dari berbagai ragam kelompok itu. Apa visi dan misi yang mestinya sama? Tentu tegaknya kembali syariah dan Khilafah.