[Al-Islam 445] Pemilu 2009 tinggal sebulan lagi. Masyarakat cukup dikagetkan dengan berjibunnya orang yang berminat untuk menjadi “caleg” (calon legislator) dari sebanyak 44 partai, ditambah 6 partai lokal. Semua orang bisa melihat gambar, iklan di media cetak/elektronik serta foto-foto pada selebaran, spanduk dan baliho yang bertebaran dengan berbagai pose dan gaya bak foto model. Semua itu lalu dibumbui dengan pujian terhadap diri sendiri/partainya. Tidak ketinggalan, janji-janji manis menjadi bumbu penyedap untuk memikat rakyat.
Semua ini tentu ganjil sekaligus memprihatinkan. Pasalnya, “Sistem rekrutmen partai itu sama seperti rekrutmen Depnaker. Sepertinya begitu mudah jadi caleg. Ada partai yang malah bikin iklan, rekrutmen terbuka, siapa yang mau jadi caleg boleh mendaftar. Ini kan sama saja kayak rekrutmen TKW yang mau dikirim ke Timur Tengah,” demikian komentar Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, dalam diskusi bertema, “Kualitas Caleg”, di Jakarta, Sabtu (28/2).
Layakkah Mereka?
Sulit menjawabnya. Pasalnya, banyak partai saat ini lebih condong menjadi “broker politik”, terutama bagi para caleg. Apalagi sistem demokrasi memberikan lahan luas bagi berdirinya partai politik apapun warnanya selama prinsip dasarnya adalah menyokong tegaknya sistem tersebut. Kenyataannya, kebanyakan partai berdiri di atas ideologi yang kabur; tujuannya tidak jelas, ide-ide dan konsep-konsepnya samar; metode perjuangannya pun sering pragmatis.
Dari sisi ideologi, kebanyakan partai saat ini berideologi sekular. Artinya, sejak awal partai-partai ini telah membuang agama (baca: Islam) yang seharusnya dijadikan dasar perjuangannya. Partai-partai ini, berikut para calegnya, jika meraih kemenangan dalam Pemilu dan berhasil menduduki kekuasaan, tentu tidak akan pernah menerapkan syariah Islam/hukum-hukum Allah. Mereka hanya akan menerapkan dan memperkokoh berlakunya hukum-hukum sekular yang jauh dari nilai-nilai islami. Padahal harus diakui, justru sekularisme inilah yang selama puluhan tahun menjadi sumber masalah/krisis yang melanda bangsa dan negeri ini, hingga hari ini.
Di sisi lain, memang ada sejumlah partai Islam. Namun, akhir-akhir ini, terutama setelah bergulirnya reformasi yang ditandai dengan semakin liberal (bebas)-nya kehidupan berbangsa dan bernegara, kebanyakan partai Islam mulai luntur basis ideologinya. Partai-partai Islam semakin pragmatis dan tidak setia lagi pada ideologi yang sejak semula menjadi dasar perjuangannya. Singkatnya, kebanyakan partai Islam saat ini sudah terperangkap dalam pusaran arus liberalisasi, terutama liberalisasi ideologi dan politik. Akibatnya, kebanyakan partai Islam pun sudah tidak memandang penting lagi menyuarakan perlunya penerapan syariah Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang ada dalam benak mereka hanyalah bagaimana meraih suara sebanyak-banyaknya dalam Pemilu, tidak peduli meski harus dengan mengorbankan prinsip-prinsip perjuangan Islam. Bahkan bagi sebagian mereka, berkoalisi dengan partai sekular atau partai Kristen sekalipun tidak masalah selama hal itu bisa mengantarkan mereka menduduki kursi kekuasaan.
Di sisi lain, selama ini baik partai-partai sekular maupun partai-partai Islam tidak memiliki ide-ide dan konsep-konsep yang jelas untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang sedang dialami bangsa ini, misalnya dalam mengatasi krisis ekonomi. Sampai hari ini, tidak ada satu partai pun yang secara rinci dan jelas memiliki konsep untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran, pendidikan yang semakin mahal, perampokan kekayaan alam oleh pihak asing dll. Yang ada baru sebatas slogan, sementara konsep dan langkah nyatanya seperti apa tidak jelas.
Lebih dari itu, kebanyakan partai, termasuk partai Islam, hanya bertumpu pada figur/ketokohan bahkan pada individu-individu yang hanya bermodalkan semangat akan perubahan, bahkan mungkin cuma bermodalkan uang dan popularitas.
Dengan kondisi seperti itu, haruskah rakyat berharap banyak kepada partai-partai yang ada dan para calegnya, sementara mereka pasti tidak akan mampu menyelesaikan persoalan besar yang melilit bangsa ini? Faktanya, sudah 9 kali Pemilu digelar, persoalan bangsa semakin rumit, dan rakyat hanya dijadikan obyek eksploitasi elit-elit politik.
Kedaulatan Rakyat?
Dalam demokrasi dikenal slogan, “Vox populi vox dei (Suara rakyat adalah suara tuhan).” Karena itulah, inti demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Artinya, dalam sistem demokrasi, rakyatlah yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan. Dalam bahasa Abraham Lincoln, demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Namun demikian, semua klaim di atas hanyalah omong-kosong. Faktanya, di Indonesia sendiri, yang selama ini berdaulat (berkuasa penuh) bukanlah rakyat, tetapi para elit (sekelompok kecil) wakil rakyat, termasuk elit (sekelompok kecil) penguasa dan pengusaha. Mengapa bisa begitu?
Pasalnya, Pemilu dalam demokrasi menjadikan suara terbanyak sebagai ukuran, sementara banyaknya perolehan suara bergantung pada tingkat popularitas partai dan para calegnya. Dalam sistem semacam ini, tentu ketergantungan partai maupun para caleg terhadap kebutuhan modal (uang) sangatlah besar, yaitu untuk mendongkrak popularitas partai maupun para calegnya. Karena itu, tidak aneh jika partai dan para calegnya membutuhkan dana ratusan juta hingga ratusan miliar rupiah hanya untuk menjaring suara sebanyak-banyaknya dalam Pemilu. Dari mana dananya, sementara kebanyakan partai dan para caleg tidak memiliki dana dalam jumlah besar. Dari sinilah keberadaan pengusaha/para pemilik modal menjadi sangat penting bagi partai/para caleg.
Di sisi lain, para pengusaha/pemilik modal pun memiliki kepentingan untuk mengamankan bisnisnya. Dalam kondisi demikian, gayung bersambut. Partai dan para caleg akhirnya bekerjasama sekaligus membuat semacam ‘kontrak politik’ yang saling menguntungkan dengan para pengusaha/pemilik modal. Celakanya, sering terjadi, dana dalam jumlah besar itu justru hanya dimiliki oleh pihak asing. Lalu mengucurlah dana dari mereka kepada partai-partai/para caleg yang diperkirakan bakal meraih suara cukup banyak. Akibatnya, keterlibatan asing dalam ‘money politic’ untuk menyokong partai atau para caleg tertentu sering terjadi, tentu tidak secara terbuka dan terang-terangan. Kenyataan ini—meski sulit dibuktikan—sering terjadi setiap menjelang Pemilu dan sudah banyak diungkap oleh sejumlah kalangan.
Akhirnya, bisa diduga, saat partai/para caleg yang disokong para pengusaha/pemilik modal—khususnya pihak asing—itu berhasil duduk di DPR atau menduduki kursi kekuasaan, politik ‘balas budi’ pun terjadi. Bahkan para penguasa/pemilik modal dan pihak asing kemudian bisa mendikte penguasa dan DPR. Pada akhirnya, yang berdaulat bukanlah rakyat, tetapi para pengusaha/para pemilik modal dan pihak asing tersebut. Karena itulah, wajar jika kemudian penguasa/DPR akan membuat kebijakan dan UU yang selaras dengan kepentingan mereka, bukan demi kepentingan rakyat yang telah memilihnya. Lahirnya UU SDA, UU Migas, UU Penanaman Modal, UU BHP, UU Minerba dll jelas harus dibaca dari sisi ini. Pasalnya, semua UU tersebut jelas-jelas ditujukan hanya demi melayani kepentingan pengusaha/pemilik modal, termasuk pihak asing, bukan untuk melayani kepentingan rakyat. Rakyat pada akhirnya hanya menjadi obyek pesakitan seraya terus memendam impian perubahan, yang entah kapan bisa terwujud.
Suara Mayoritas?
Dalam demokrasi, suara mayoritas selalu menjadi ukuran. Pasalnya, masyarakat tidak mungkin semuanya duduk di pemerintahan. Karena itu, wajar jika muncul konsep perwakilan rakyat. Dalam demokrasi, wajar pula jika kemudian konsep suara mayoritas diterapkan untuk mewujudkan keterwakilan rakyat di DPR/pemerintahan. Namun masalahnya, betulkah suara mayoritas wakil rakyat di DPR/di pemerintahan benar-benar mencerminkan suara mayoritas rakyat? Tentu tidak! Sebab, pada kenyataannya suara rakyat telah beralih menjadi suara mereka sendiri secara individual. Bukankah para ”wakil rakyat” tersebut tidak pernah meminta pendapat rakyat yang diwakilinya? Lebih dari itu, pada kenyataannya banyak suara wakil rakyat tersebut sudah ‘terbeli’ oleh kekuatan modal para pengusaha dan pihak asing, sebagaimana telah dijelaskan di awal.
Yang lebih penting untuk dipersoalkan, apakah ‘suara mayoritas’ itu pasti benar? Tentu tidak! Di dalam banyak ayat-Nya, Allah Yang Mahatahu justru menyatakan sebaliknya dan bahkan mencelanya. Allah SWT, misalnya secara tegas berfirman:
]وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ[
Jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah (QS al-An’am [6]: 116).
Ungkapan senada juga bisa kita temukan di dalam banyak ayat-Nya yang lain (Lihat: QS 2: 100; 6: 37, 111; 7: 17, 102, 131; 8: 32; 10: 36, 55, 60; 12: 106; 16: 75, 101; 21: 24; 25: 44; 26: 8, 67; dll).
Walhasil, suara mayoritas bukanlah penentu kebenaran. Sebuah kebenaran hanya ditentukan oleh kesesuaiannya dengan hukum-hukum Allah, yang berdasarkan dalil syariah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah.
Tinggalkan Demokrasi!
Sesungguhnya demokrasi bukanlah solusi. Ia justru menjadi sumber masalah. Sebab, sejak awal demokrasi telah memposisikan kedaulatan Allah SWT di bawah kedaulatan rakyat (manusia). Itulah pangkal masalahnya.
Selain itu, demokrasi sesungguhnya tidak menjanjikan apapun; tidak kemakmuran, kesejahteraan ataupun keadilan. Demokrasi hanya menjanjikan harapan semu yang selamanya tidak pernah mewujud menjadi kenyataan. Buktinya, sudah sekian puluh tahun demokrasi diterapkan di negeri ini, dan sudah sekian kali pemilu dalam sistem ini digelar, namun hasilnya hanyalah keburukan demi keburukan.
Dalam hal ini, seorang Muslim yang cerdas sejatinya tidak terjerembab ke dalam lubang yang sama dua kali, apalagi berkali-kali. Rasulullah saw. bersabda:
«لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ»
Seorang Mukmin tidak seharusnya terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali (HR al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, janganlah kita sampai terjerembab ke dalam ‘lubang demokrasi’ untuk ke sekian kalinya. Marilah kita berlepas diri dari sistem demokrasi. Marilah kita bersegera untuk menegakkan sistem pemerintahan Islam, yakni sistem Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, yang akan menerapkan syariah Allah SWT secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan itulah kita semua akan dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat, sekaligus mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Wallâh a’lam. []
Komentar:
Forum Ekonomi Dunia Islam ke-5 di Indonesia akan menawarkan konsep ekonomi Islam (Hidayatullah.com, 3/3/2009).
Ekonomi Islam secara total hanya mungkin diterapkan dalam sistem Khilafah Islam.
Hizbut Tahrir Indonesia Melanjutkan Kehidupan Islam

selama sistemnya masih demokrasi, GOLPUT adalah pilihan terindah dalam hidup ini
Bismillahirrahmaanirrahiem.
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Saya rasa kalimat “TINGGALKAN” masih terlalu lunak yang
lebih tepat adalah; “HANCURKAN” dan “MUSNAHKAN” karena
GAZA BLOODSHED 2009 adalah sesuai dengan dua saran diatas.
Dan ALLAH SWT di dalam AL-QUR-ANUL KARIEM telah memerintah
kan QISOS untuk membela IKHWAN-IKHWAN kita tercinta di FILISTIN. ALLAHU AKBAR!!!!!!
ketidaktahuan masyarakat tentang arti sebenar demokrasi menyebabkan mereka berbangga hati dengan sistem ini. untuk itu kita terus berjuang brantas kebodohan masyarakat tentang demokrasi. Allahu Akbar!!!!
demokrasi sistim kufur, keboboroanya sudah tampak jelas, mengaa masih digunakan???
SAATNYA KHILAFAH MEMIMPIN DUNIA!!!!
demokrasi cacat sejak lahir. tidak layak utk diikuti apalagi dilestarikan. Masihkah kita percaya pada Demokrasi! “SYARIAH ISLAM NOT OPTION BUT OBLIGATION”
Bismillah.
Sudah sewajarx apa yg dibawa selain dari ajaran rosulullah harus ditinggalkan, terus berjuang ya ikhwah. . .
Khalifah pasti terwujud. . .
Allahu Akbar…3x
amin,
tunggulah bangkai DEMOKRASI kawan!!!
Allahu akbar
Belum cukupkah bukti-bukti yang disampaikan? Sudahkah nash-nash Alqur’an dan hadits menjadi rujukan kita dalam mengambil keputusan hidup? Masih kah kita berharap pada sistem yang tidak memberi jaminan hidup mulia di dunia dan jaya di akherat? Akankah hidup ini kita pertaruhkan pada manusia2 tidak beriman dan anti syariat Islam? Siapkah kita menerima ujian2 dan musibah2 lagi yang sudah bertubi-tubi mendera kehidupan kita GARA-GARA masih tidak mau peduli pada penerapan Islam kaffah? AYO KEMBALI PADA ISLAM..!!!
Wahai Kaum Muslim, ayo bangun dari tidur..,jangan terlena oleh janji2 palsu mereka (orang2 kafir, kapitalis dan punya tujuan tertentu.red). Mereka cuma NATO = Not Action Talk Only. qt cm dieksploitasi saja.ibarat galah yg digunakan utk mengambil rambutan pd musim rambutan, ketika rambutan telah habis maka galah itu akan dicampakkan. itulah rakyat kecil yg slalu jadi korban. demokrasi is all busted. malah demokrasi diplesetkan jadi democrazy. just Khilafah the real of solution.
Sepakat dengan ustadz sholeh….
Kayaknya orang banyak yang tidak tahu
ato pura pura tidak tahu…
ato memang perlu di beritahu kalo mereka tidak tahu
bukti dah jelas
AYO KEMBALI PADA ISLAM….
Wahai umat terbaik, umat Muhammad. Bangun dan singsingkan lengan bajumu. Curahkan segenap daya dan kemampuanmu, untuk memenangkan agama Allah ini. JAngan sampai Islam kembali terupuk dan dijadikan sekedar pilihan di negeri ini. Politisi sekuler telah melakukan itu semua demi tetap eksisnya kedudukan dan sistem terkutuk ini. Ingat, 85 tahun yang lalu, Khilafah dihancurkan. Kinilah saatnya menegakkannya kembali. Mengapa kita masih menunggu esok?
Golput itu pilihan
memilih itu hak bukan kewajiban
BRING BACK ISLAM
back to islam is our choise
Demokrasi ???
KEBUMIKAN DEMOKRASI DAN DERIVAT2NYA
BUMIKAN ISLAM !!!
gak usah ngomong apa apa lagi
pokonya KHILAFAH TEGAKKAN!!!!
ALLAHU AKBAR!!!!!!
buat indonesia dengan hukum syariat islam…..
agar indonesia makmur dunia dan akherat allahu akbar.
assalamualaikum wr. wb
punya saya kok ga ditanggapi gmn pak ustad, saya benar2 pengen tahu.. penjelasan sistem pemerintahan khilafah itu bagaimana detailnnya?
kemudian bagaimana sistem pengangkatan seorang khilafah (pemimpin)? itu harus dijelaskan secara rinci agar kampanye-kampanye HTI terkait khilafah ini ga hambar……..
karena kalo ngomong pokoknya2 itu polisi, tentara pada umumnya jago..
anak kecil juga bisa, gmna pak? tolong dijawab ya…..
atau sebenarnya mau meracuni Indonesia dengan ketidak jelasan yang lain.. tapi mudah2an tidak.. wassalam..
trims