HTI-Press. Setelah adanya tekanan Amerika yang sangat keras terhadap rezim Mesir dalam hal pembebasan para tawanan politik, dan untuk meredakan berbagai bentuk tekakan yang ditujukan kepadanya, maka rezim Mesir sebelum berakhir masa pemerintahannya membebaskan politisi oposisi yang terkenal, Aiman Nur, pendiri partai al-Ghad. Tindakan ini jelas merupakan langkah politik untuk memperbaiki hubungan rezim Mesir dengan pemerintahan Amerika yang baru. Dimana pemerintahan Bush sebelumnya telah memberi sanksi kepada Husni Mubarak berupa larangan menemuinya di Gedung Putih sejak lima tahun yang lalu. Padahal, sebelumnya setiap tahun ia mengunjunginya.
Pembebasan Aiman Nur ini didahului dengan datangnya ancaman Amerika terhadap Husni Mubarak. Disebutkan dalam headline koran Washington Post: “Sesungguhnya Obama tidak ingin menolak secara terang-terangan kunjungan presiden Mesir, Husni Mubarak. Namun, dalam waktu yang sama, penting untuk tidak memberikan kepada Mubarak undangan tanpa syarat. Sebab pemerintahan yang ada di seluruh penjuru kawasan Timur Tengah, serta banyak bangsa Arab yang beraktivitas untuk mengubah demokrasi di negeri mereka, mereka akan mengontrol sikap untuk mengetahui jika presiden Mesir akan memperoleh kebebasan untuk pergi ke Washington. Hal itu jelas melalui apa yang dilakukan pemerintah Amerika yang baru ini dengan mengirim surat pada penguasa Timur Tengah bahwa Amerika akan mengulang politik AS sebelumnya dalam mendukung para penguasa Arab yang diktator sebagai balasan atas apa yang mereka lakukan dalam membantu Amerika untuk merealisasikan kepentingan-kepentingan strategis Amerika. Surat ini hakikatnya adalah melengkapi bahaya rencana Obama untuk mengembalikan wibawa dan kredibilitas Amerika. Khususnya dalam bayang-bayang kemarahan berjuta-juta kaum sekuleris di antara bangsa Arab kelas menengah, yang timbul akibat rusaknya para penguasa mereka yang diktator”. Dan setelah ancaman ini, rezim Mesir membebaskan Aiman Nur dengan tanpa alasan dan tanpa syarat.
Juru bicara kementerian luar negeri Amerika, Gordon Duguid berkomentar tentang pembebasan Nur ini dengan perkataan, “Kami ucapkan selamat atas langkahnya ini”. Hal ini menunjukkan bahwa Washington “sebelumnya telah meminta untuk membebaskannya”.
Demikian, inilah watak negara Arab terbesar dibawah pemerintahan Mubarak yang senantiasa menuruti perintah-perintah Amerika, meski perintah itu datang melalui koran harian Amerika. (mb/al-aqsa.org)
Hizbut Tahrir Indonesia Melanjutkan Kehidupan Islam
