Komandan Militer AS Ramalkan Pakistan Akan Runtuh Dalam Waktu Enam Bulan

HTI-Press.David Kilcullen penasehat Jenderal David Petraeus Kepala Staf Komando Angkatan Darat Amerika menjelaskan kepada The Washington Post: “Sungguh Pakistan telah gagal sebagai sebuah negara. Tentara dan struktur keamanannya membentuk negara dalam negara. Hal itu terlihat dimana pemeintahan Pakistan telah kehilangan kontrol kekuasaannya lebih dari 70% dari wilayahnya”. Kilcullen menambahkan, “Sungguh Pakistan akan runtuh dalam waktu enam bulan”. Dia memperingatkan mengenai sulitnya menempatkan satu tangan pada beberapa ratus peledak senjata nuklir yag tersebar di negeri ini”.

Akhir-akhir ini ramai diperbincangan tentang kegagalan dan ketidakberdayaan Pakistan dalam memerang apa yang disebut dengan terorisme. Bahkan pemerintahan Obama menilai Pakistan sebagai negara paling berbahaya di dunia. Hal ini dihubungkan dengan kegagalamnya di Afghanistan, dan kegagalan negara Pakistan untuk bekerja sama dengan pasukan NATO dalam usahanya melawan Taliban. Pemerintahan Obama mengulang strategi pembuatan keputusan melalui beberapa negara yang akan berperang di sana dengan atas nama keputusan bersama. Sehingga pemerintahan Obama memutuskan untuk mengadakan konferensi di akhir bulan Maret lalu untuk mengatasi krisis Afganistan. Sehingga secara resmi Iran diundang dalam konferensi tersebut.

Holbrooke, utusan khusus Amerika untuk Pakistan dan Afghanistan mengatakan bahwa pemerintahannya (Amerika) akan mempertimbangkan dari sekarang dan seterusnya bahwa masalah Afghanistan pada dasarnya adalah masalah Pakistan. Dia menilai Pakistan sebagai bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Bahkan ia menilai Pakistan sebagai sumber masalahnya. Untuk itu, pemerintahannya harus memecahkan sumber masalahnya, bukan dampak (efek) dari masalah itu.

Pemerintah Amerika sebelumnya datang dengan Ashif Zardari menggantikan Pervez Musharraf. Pergantian itu diharapan dapat membantunya, sebab partainya punya hubungan dekat dengan pihak Inggris, dan juga dengan rakyat Pakistan. Namun, yang terjadi justru kontraproduktif. Masalah-masalah politik dan keamanan di Pakistan malah semakin banyak dan rumit. Akhirnya, Amerika dan Inggris terpaksa campur tangan dengan merekonsiliasi Zardari dengan Nawaz Sharif, dan mengembalikan Chaudhry pada jabatannya sebagai hakim di Mahkamah Agung Pakistan. Dengan itu diharapkan suasana yang terus memanas dapat diredakan.

Tetapi semua langkah-langkah politik, ekonomi, dan lainnya itu tidak memberikan hasil akhir seperti yang diharapkan, juga tidak memberi harapkan di masa mendatang. Sebaliknya, Taliban di Pakistan hari demi hari pengaruhnya terus meluas, dan pendukungnya terus meningkat. Jalur-jalur yang selama ini digunakan untuk membawa logistik NATO terancam oleh milisi Taliban, sehingga jalur-jalur itu hampir ditutup. Daerah-daerah Bloushtan telah lepas dari kontrol Pakistan, dan beberapa suku wilayah Swat telah menandatangani kesepakatan khusus dengan pemerintah untuk menerapkan hukum Islam sebagai konpensasi tidak menjadikan unsur-unsur pemerintah sebagai target-target serangan.

Sungguh, pemerintah Pakistan telah kehilangan popularitasnya, dan menjatuhkan dirinya ke dalam pangkuan Barat. Sementara, Zardari di depan para elite tidak ubahnya wayang (boneka) asing yang tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi memecahkan masalah yang ada. Hal ini membuktikan kepada semua bahwa ia sangat lemah dalam hal politik, dan ia tidak memiliki kemampuan untuk memimpin pemerintahan. Tidak seorang pun aparat keamanan Pakistan yang dapat dikontrol secara penuh. Sebab, aparat keamanan Pakistan disusupi oleh intelijen Barat dan pada saat yang sama disusupi oleh kelompok Islam. Militernya pun terbagi menjadi pada beberapa faksi. Sedang perekonomianya terus merosot hingga di bawah rata-rata. Sementara keadaan negara secara umum dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Dalam menghadapi semua kenyataan—yang membuyarkan harapan—ini, maka semua orang akan bertanya tentang sang penyelamat? Ya, semua orang bertanya tentang sang penyelamat yang akan datang untuk menyelamatkan Pakistan dari kemunduran dan keterbelakangan yang terus menghantuinya ini? Yang jelas jawabannya adalah bahwa sang penyelamat itu bukan Amerika, dan bukan pula para antek-anteknya. Namun, sang penyelamat itu adalah para tokoh Islam Pakistan—yang pikirannya belum teracuni dengan pemikiran-pemikiran kufur yang menyebabkan hilangnya barakah dan ridla Allah SWT.. (al-aqsha)

2 comments

  1. Sumber masalah di seluruh bagian di dunia adalah kapitalisme dan sekulerisme, yang menjadikan manusia (yang bodoh) sebagai Pembuat Hukum, penentu baik buruk, pembuat nilai-nilai. Kapitalisme-sekulerisme ituah sumber masalah, bukan solusi. Dialah ideologi pembuat kerusakan, kehancuran, krisis dan kekacauan di seluruh dunia. Kemiskinan, krisis dan kebodohan politik, krisis pendidikan, sosial dan berbagai dimensi lain. Kalau dunia ingin selamat, aman, sejahtera, maju, beradab, buang campakkan Kapitalisme dan Sekulerisme yang dungu itu! Pemikiran batil, rendah tak berkualitas! Pemikiran sampah!!

  2. Karaeng Gerlong

    Setelah jatuh ke tangan mujahidin, akankah Pakistan menjadi cikal bakal Khilafah ‘alaa Minhaajin Nubuwwah?
    Teruslah berjuang saudara2ku mujahidin, perstukanlah ummat ini dengan kekuatan besarmu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*