Dugaan pelarangan shalat Jumat di Toko Sony Elektronik hanya contoh. Di sinyalir masih banyak toko di Pekanbaru yang pemiliknya menerapkan aturan sama.
Pekanbaru. HTI Press. Meskipun Alexander, suami Mariana, pemilik Toko Sony Elektronic, Sony Vaio dan Duta Elektronik Pekanbaru membantah menerapkan aturan melaran karyawan shalat Jumat, namun berdasarkan keterangan sejumlah sumber yang didapat riauterkini.com, di Pekanbaru cukup banyak pemilik toko yang tak bisa menghormati kebebasan beribadah pekerjanya.
Misalnya Eko (22), warga Sidomulyo Timur, Marpoyan Damai. Pemuda lajang tersebut kepada riauterkini.com beberapa waktu lalu mengaku terpaksa berhenti dari tempat kerjanya, sebuah toko yang melayani jasa isi ulang tinta printer di Jalan Ahmad Dahlan Pekanbaru.
“Terpaksa berhenti dari situ, karena tidak diizinkan sholat Jumat,” tuturnya beberapa waktu lalu.
Dikatakan Eko, tidak hanya dirinya, beberapa teman sekerjanya juga memilih berhenti dari tempat kerja tersebut dengan alasan sama, karena tak diberi kebebasan melaksanakan ibadah.
Menurut Eko, beberapa temannya yang bekerja di sejumlah toko yang pemiliknya nonmuslim juga mengalami perlakuan sama. “Ada beberapa teman saya yang juga mengeluh tak boleh sholat Jumat,” tuturnya.
Menyikapi peristiwa tersebut, Ketua DPD I Riau Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammadun mengharapkan Pemko Pekanbaru tanggap dan bertindak tegas. “Pemko jangan diam saja terhadap permasalah sensitif ini. Harus ada langkah konkrit untuk menanggulangani,” tutur Muhamaddun saat berbincang dengan riauterkini.com di Pekanbaru, Ahad (3/6/12).
Disarankan Muhammadun, Pemko Pekanbaru harus cepat membuat regulasi, jika tidak dalam bentuk Perda, minimal berupa surat edaran walikota untuk seluruh pemilik toko dan dunia usaha umumnya agar memberikan kebebasan beribadah kepada para pekerjanya.
Dikatakan Muhammadun, selama ini Muslim Indonesia kerap dituding Komisi HAM PBB intoleransi terhadap umat agama lain, tetapi banyak fakta yang sesungguhnya terbalik, seperti yang terjadi di Pekanbaru, justru kelompok minoritas yang intoleransi.***(sumber riauterkini.com)
Hizbut Tahrir Indonesia Melanjutkan Kehidupan Islam
