Istihlal Tokoh Muslimah Surabaya
HTI Press. Penolakan ajang Miss World terus diserukan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Kontes kecantikan yang rencananya dihelat di Indonesia, September 2013 nanti hanya menjadi ajang jualan produk perempuan.
DPD Muslimah Hizbut Tahrir Jawa Timur mengadakan Istihlal dengan puluhan tokoh muslimah Surabaya, Ahad, 25 Agustus 2013. Acara bertajuk “Raih Kemenangan, Waujudkan Kemuliaan Perempuan dengan Khilafah” ini ingin kembali mengingatkan kaum muslimah terhadap rencana perhelatan Miss World 2013.
Seperti diketahui pelaksanaan Miss World 2013 yang digelar di Indonesia menuai pro-kontra. Sejumlah masyarakat mendukung, tapi banyak pula yang menyerukan penolakan. Salah satu yang konsisten ingin menggagalkan kontes itu diadakan di Indonesia adalah MHTI.
Menurut Anggota DPP MHTI Asma Amnina, Miss World merupakan bagian dari kemaksiatan. Dengan diadakannya kontes kecantikan di Indonesia akan berdampak di negeri muslim lainnya. Terbukti, dari hanya 116 peserta pada 2012 lalu, tahun ini jumlah peserta mencapai 130 perwakilan negara. Bahkan, negara Brunei Darussalam yang tidak pernah mengikuti kontes ini akhirnya menjadi peserta setelah mengetahui Indonesia menjadi negara penyelenggara.
Hal itu tentu bukan tanpa sebab. Indonesia dianggap sebagai ikon dan potret dunia Islam. Kaum muslim di belahan negara lain akan menerima acara inidan berbondong-bondong menjadi peserta. “Ketika Indonesia mengadakan acara ini jadi legalitas negeri muslim. Indonesia merepresentatifkan kaum muslimin dunia,” kata Asma.
Fakta itu diakui oleh Nikmatus Zahra. Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga yang pernah berkunjung ke negara Eropa ini membenarkan apa yang dikatakan Asma. Baik muslim dan non muslim di sana menjadikan Indonesia sebagai barometer Islam. Apa yang dilakukan Indonesia terkait Islam akan diikuti oleh kaum muslimin dimanapun.
Asma kembali menegaskan bahwa Miss World hanyalah sebuah alat kapitalisasi perempuan. Slogan 3B, brain, behaviour and body yang selalu dielu-elukan pada kenyataannya hanyalah body, body and body.
Buktinya, wanita ideal menurut Miss World adalah mereka yang berkulit putih, tinggi semampai, bertubuh langsing. Mereka kemudian menjadi alat untuk menjajakan produk-produk tertentu. Generasi muda akan memburu apa yang mereka pakai agar mendekati kecantikan seperti yang dimiliki sang ratu. Konsep menuju Miss World 2013 tidak canggung menampilkan sensualitas perempuan untuk menjelaskan kriteria Beauty with purpose.
Aksi kemanusiaan sebagai wujud kepribadian yang ditunjukkan kontestan hanyalah lips service. “Pasti yang kuat dibaca masyarakat apa yang ada di fisik mereka,” kata Asma.
Ajang kapitalisasi juga terlihat dari dampak penyelenggaraan Miss World ini. Julia Morley sebagai chairwoman of Miss World Organization dengan waralaba di lebih dari 130 negara mampu meraup untung hingga US4 450 juta atau setara dengan Rp 4 trilyun lebih.
Di Indonesia, belanja kosmetik nasional 2013 ini mencapai Rp 9,7 trilyun dan belanja fashion nasional mencapai US$ 10 miliar per tahun. Bayangkan orang miskin harus berjuang untuk mencari makan, sementara sebagian ornag menghabiskan dananya untuk berburu kosmetik dan fashion. Diselenggarakannya Miss World di Indonesia diyakini Asma akan mengurasi habis keuangan untuk sebuah kecantikan.
Demi kecantikan pula, banyak perempuan yang rela miskin dan sekarat. Model majalah Vogue Australia misalnya rela makan tissu untuk menahan lapar. Belanja produk pelangsing di Inggris tembus 11 miliar poundsterling per tahun dan $ 40-100 miliar di Amerika Serikat.
Data WHO, ada 77 persen perempuan di Nigeria menggunakan krim pemutih. Mereka terkena gagal ginjal, leukimia dan kanker hati. Sebanyak US$ 1 juta pendapatan klinik bedah plastik dengan konsumen mayoritas perempuan.
Persepsi tentang kecantikan akan semakin diperkuat dengan adanya Miss World dan kontes kecantikan serupa. Penghargaan terhadap perempuan seakan sangat tinggi ketika menjadi ratu kecantikan.
Salah satu peserta Hajah Suciati dari Wisma Lidah Kulon juga mengamini. Perempuan seolah dijadikan ujung tombak jualan produk-produk tertentu. Miss World dan kontes lainnya hanyalah melegalkan hal itu. Belum lagi ditambah dengan kondisi saat ini dengan menjamurnya pelacuran. Tidak melulu atas dasar kebutuhan ekonomi, tapi juga menjadi trend. Tidak hanya terbatas pada kalangan ekonomi menengah bawah, tapi juga kaum intelektual.
Karena itu, para peserta pun sepakat untuk segera menghentikan segala hal yang merendahkan martabat kaum perempuan. Tanpa terkecuali ajang Miss World 2013. MHTI pun mengajak peserta untuk turun ke jalan menyuarakan penolakan ini dan meminta pemerintah untuk emncabut izin penyelenggaraan di Indonesia. “Kalau Lady Gaga saja bisa digagalkan, kenapa Miss World tidak bisa,” ujar salah seorang peserta semangat.



