Pelecehan Wanita di Transjakarta: Dimana Perlindungan Negara?
Oleh: Siti Nuryati, S.TP, M.Si
Pelecehan seksual di Transjakarta terus dan terus terjadi. Para wanita penumpang moda transportasi ibu kota ini pun terus didera kecemasan. Cemas menjadi korban aksi memalukan oknum laki-laki yang dengan berbagai modus melancarkan aksi yang terbilang menjijikkan, mulai dari gesek-gesek, pamer kemaluan, hingga keluarnya sperma yang membasahi bagian belakang penumpang wanita. Ini menunjukkan wanita masih jauh dari aman saat berada di Transjakarta.
Lalu dimana peran pemerintah terutama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam menciptakan rasa aman dan nyaman bagi warganya? Dimana letak perlindungan negara kepada warganya? Tak cukup hanya memproses pelaku ke ranah hukum seperti yang baru-baru ini dilakukan terhadap oknum Hadi (30 tahun), namun perlu diciptakan sistem yang lebih komprehensif agar dapat mencegah terulangnya kejadian pelecehan. Secara teknis, pemisahan antrian dan tempat duduk di dalam transjakarta harusnya dilakukan agar tidak membuka peluang kaum laki-laki memanfaatkan kesempatan saat berdesakan dalam antrian maupun saat berada di penuh sesaknya penumpang dalam bus transjakarta. Pembatasan jumlah penumpang juga perlu dilakukan, selain untuk menghindari berjubelnya penumpang dalam bus, juga untuk memberikan kenyamanan bagi penumpang.
Dan yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana komitmen pemerintah/negara dalam melindungi kaum wanita. Berbicara tentang perlindungan terhadap kaum perempuan, Rasulullah SAW dan para Khalifah yang meneruskannya memberikan teladan agung bagaimana negara memberikan perlindungan dan penjagaan pada perempuan. Bukan hanya muslimah, tapi perempuan yang bukan Islam pun dilindungi dan dijaga kehormatannya.
Ada sebuah kisah menarik terkait perlindungan dan penjagaan kehormatan wanita di masa Rasulullah SAW. Suatu ketika ada seorang Yahudi mengganggu dan melecehkan seorang muslimah. Rasulullah SAW segera bertindak dan membalas perlakuan Yahudi tersebut. Kisah lainnya diukir dalam perang Amoria dimana pemimpin Islam kala itu, Khalifah Mu’tashim billah memerintahkan tentaranya untuk memerangi orang-orang kafir dalam satu kota “hanya” karena ada seorang wanita muslimah diganggu dan dilecehkan kehormatannya oleh orang kafir di kota tersebut. Saat itu, salah seorang kafir mengikat kain yang dikenakan sang muslimah ke sebuah paku, sehingga ketika berdiri terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim billah dengan lafadz yang cukup terkenal “waa mu’tashimaah!” maka Khalifah Al-Mu’tashim pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Amoria dan menghancurkan orang kafir yang ada di kota tersebut. Begitu hebatnya perlindungan dan penjagaan kehormatan yang diberikan seorang pemimpin kepada warganya kala itu.
Sungguh berbeda dengan kondisi saat ini dimana begitu banyak wanita yang tidak mendapat perlindungan. Wanita-wanita yang terus didera derita akibat pelecehan seksual, eksploitasi dan korban kekerasan. Rasa aman dan nyaman sudah sangat langka bagi wanita. Kaum wanita dimana-mana tidak merasa aman. Naik bus dilecehkan, naik kereta dijambret, naik angkot diperkosa, bahkan berjalan pun dipepet dan diganggu oleh laki-laki tak bernurani.
Sulit bagi wanita mendapatkan perlindungan dan penjagaan kehormatan di sistem yang sekuler-kapitalistik seperti saat ini. Seharusnya pemerintah segera sadar akan tanggung jawabnya melindungi warganya. Jangan sampai jatuh korban-korban berikutnya. (*)
