Peran Politik Mubalighoh dalam Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah

HTI Press. Banjarbaru. Sekitar 400 orang mubalighoh dari berbagai kota dan kabupaten di seluruh Kalimantan Selatan memadati Aula Bapelkes Banjarbaru, tempat diselenggarakannya Liqo Muharram Mubalighoh 1435 Hijriah, Selasa (5/11). Kegiatan ini mengambil tema “Peran Politik Mubalighoh dalam Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah.”

Koordinator Lajnah Khusus Mubalighoh (LKM) Muslimah HTI Kalsel, Ustadzah Zulfa Nur menyampaikan materi berjudul “Perubahan Besar Untuk Indonesia Lebih Baik.” Dirinya menjelaskan perubahan yang dimaksud adalah perubahan politik, dari politik Demokrasi berubah menjadi politik Islam. Mengapa demikian ? Karena jika kita melihat fakta dari persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, akan kita temukan bahwa persoalan mendasarnya adalah akibat diterapkannya Demokrasi. Dimana demokrasi itu sendiri secara mendasar sangat bertentangan dengan Islam. Karena demokrasi memiliki prinsip dari, oleh dan untuk rakyat. Dimana suara rakyat itu dianggap suara Tuhan. Suara mayoritas adalah menentukan keputusan. Dengan menjadikan kedaulatan di tangan rakyat berarti sama dengan menjadikan kewenangan membuat hukum ada pada manusia. Sementara secara akidah Islam, kita harus menyerahkan kedaulatan kepada Syara’ (Allah – Sang Pembuat Hukum).

Bagi bangsa Indonesia, Zulfa Nur berpendapat, momentum tahun baru Hijriah ini sebaiknya dijadikan momen untuk menghijrahkan bangsa ini. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw dimana 1 Muharram sebagai Tahun Baru Islam merupakan tonggak hijrah Rasulullah saw yaitu berpindah dari sistem jahiliyah kepada peradaban yang mulia dengan menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah. Seharusnya kita mengikuti apa yang telah dicontohkan Rosulullah saw. Tidak ada pilihan lain.

Zulfa Nur berharap dengan diselenggarakannya kegiatan LMM 1435 Hijriah ini, semakin meningkatkan kesadaran dan pemahaman politik di kalangan para mubalighoh bahwa aktivitas mereka sesungguhnya adalah aktivitas politis, dimana mereka berperan dalam mengurusi umat. Para mubalighoh adalah pejuang-pejuang umat karena mereka memfasilitasi umat untuk mengkaji Islam dan menggerakkan masyarakat. Hal ini merupakan potensi penting. Dirinya berharap melalui acara ini, para mubalighoh semakin terdorong untuk lebih meningkatkan potensinya tadi dengan mengarahkan umat untuk berubah ke arah yang lebih baik yaitu perjuangan penerapan Syariah Islam melalui Daulah Khilafah.

Sementara itu, Koordinator LKM Muslimah HTI, Ustadzah Asma Amnina menyampaikan materi berjudul “Peran Politik Mubalighoh Menuju Khilafah.” Menurutnya, bulan Muharram adalah bulan bersejarah bagi umat Islam, khususnya di masa Rasulullah saw, dimana menjadi tonggak sejarah perubahan kaum muslim yang hidup dalam system jahiliyah kepada system Islam di bawah naungan Daulah Khilafah.

Asma Amnina mengungkapkan saat ini di negeri-negeri kaum muslim termasuk Indonesia, telah kehilangan system Islam yang berfungsi sebagai pelindung dan penjamin kehidupan mereka. Menurutnya, inilah yang seharusnya diperjuangkan oleh umat Islam, kalau mereka tidak ingin hidup dalam kesengsaraan dan kedzoliman yang terus-menerus terjadi. Usaha yang dilakukan adalah dengan mencampakkan sistem buatan manusia yaitu Demokrasi dan menggantinya dengan syariat Islam yang akan diterapkan dalam sebuah sistem politik Khilafah Islamiyah. Dalam perjuangan ini, para mubalighoh memiliki peran penting. Mengingat posisi mereka yang dekat dengan masyarakat, mereka juga mengetahui persoalan-persoalan masyarakat. Dengan memahamkan makna politik kepada para mubalighoh, maka secara langsung maupun tidak langsung, akan terjadi proses penyadaran di tengah umat tentang perjuangan yang seharusnya dilakukan dengan penerapan Daulah Khilafah.

Asma Amnina juga menjelaskan peran politik mubalighoh akan terwujud ketika mereka memahami bagaimana urusan umat dalam seluruh aspek kehidupan diatur oleh syariat Islam. Oleh karena itu, para mubalighoh seharusnya bergerak secara masif di tengah masyarakat menyadarkan tentang hukum-hukum Islam. Selain itu, mengajak masyarakat untuk berjuang menegakkan Syariah Islam dan memberikan dukungan terhadap partai politik ideologis yang menegakkannya.

Asma Amnina berharap para mubalighoh menyambut seruan Hizbut Tahrir agar bersama-sama berjuang dalam penerapan Syariah dan Khilafah. Jika hal itu terjadi, maka akan semakin mempercepat proses perjuangan, mempercepat kezoliman sirna, dan mempercepat umat Islam akan merasakan kebaikan dan keberkahan dari penerapan syariat Islam di dunia maupun di akhirat.

Acara Liqo Muharram Mubalighoh 1435 Hijriah ini diakhiri dengan penandatanganan Mitsaq Mubalighoh dan Penggerak Majelis Ta’lim yang diwakili oleh 12 mubalighoh dari 13 kabupaten/kota di Kalsel. Isi dari Mitsaq (pernyataan sikap) tersebut, antara lain menolak sistem demokrasi yang terbukti telah menyengsarakan umat dan turut serta memperjuangkan penegakkan sistem Islam yakni Khilafah Rasyidah ‘ala min hajin Nubuwwah, dengan membina umat dan menjaga kejernihan pemikirannya, membangun kesadaran politik umat, memberi solusi Islam terhadap berbagai permasalahan kehidupan, melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada para pemimpin dan penguasa (Muhasabah lil Hukkaam), mengembangkan jaringan untuk semakin menyebarkan gagasan syariah Islam kaaffah dan khilafah, menjadi perekat ukhuwah umat Islam berdasarkan aqidah Islam, membela, menjaga dan mendukung upaya penegakan syariah dan khilafah serta para pejuangnya, menjadikan diri dan keluarga sebagai teladan umat baik dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah maupun perjuangan Islam. (Kontributor Banjarmasin) []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*