Kantor Pusat: Ungkapan Duka Cita Atas Sejarah Harum Seorang Nenek dan Sekaligus Pengemban Dakwah

Sayidah MaqsudahTelah berpulang ke rahmatullāh, Sayyidah Maqshudah bintu Abdul Jabbar, dalam usia yang mendekati 82 tahun. Beliau adalah ibu dari tujuh anak, dan nenek yang mengagumkan untuk cucu-cucunya dan anak-anak cucunya.

Sayyidah Maqshudah lahir pada tahun 1934 di kota Nookat, Kirgistan selatan, di tengah keluarga yang sangat berpendidikan, sehingga beliau menerima pendidikan Islam sejak dini dari kedua orang tuanya rahimahumallāh, semoga Allah merahmati keduanya.

Sayyidah Maqshudah rahimahallāh, semoga Allah merahmatinya tumbuh dan berkembang di era Uni Soviet yang telah berlalu. Dan meskipun beliau hidup di negara yang menerapkan sistem komunis ateis, namun beliau tetap berpegang teguh dengan hukum-hukum Islam yang hanīf (lurus), dengan terus berusaha untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Oleh karena itu, ketika beliau mendengar tentang ide-ide Hizbut Tahrir melalui diskusi yang berlangsung di antara anak-anaknya dan para syabab Hizbut Tahrir, maka beliau menyadari bahwa inilah jalan yang benar. Sehingga pada tahun 2002, beliau bergabung dalam barisan Hizbut Tahrir, yang ketika itu beliau berumur 72 tahun.

Sayyidah Maqshudah rahimahallāh segera memuali aktivitas mengemban dakwah sesuai kemampuannya. Beliau mengajari kaum perempuan dan para remaja putri membaca Al-Qur’an dan hukum-hukum Islam yang agung. Bahkan gadis-gadis muda telah mengenal dan belajar tentang huruf-huruf Al-Qur’an untuk pertama kalinya dari belau ini.

Sayyidah Maqshudah rahimahallāh adalah seorang perempuan shalihah dan bertakwa, juga zuhud dan ahli ibadah. Sepanjang hidupnya Al-Qur’an tidah pernah lepas dari tangannya, sehingga beliau menjadi contoh yang baik (uswah hasanah) bagi banyak orang karena kualitas dan kuantitas ibadah dan kesabarannya.

Sayyidah Maqshudah rahimahallāh terus menunggu dengan cemas saat-saat dimana syariah Allah SWT diterapkan, bahkan beliau berharap akan tetap siaga menyongsong berdirinya negara Khilafah ‘ala minhājin nubuwah, hingga saat-saat terakhir hidupnya, yaitu di saat beliau sakarataul maut.

Sayyidah Maqshudah rahimahallāh dengan membawa tasbih di tangannya terus mengucapkan tahmīd (Alhamdulillāh), takbīr (Allāhu Akbar), dan tahlīl (Lā Ilāha Illallāh).

Kami memohon kepada Allah SWT semoga Allah SWT merahmatinya, mengampuni dosa-dosanya dan mengumpulkannya bersama dengan para nabi, para shiddīqīn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, karena mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Juga kami memohon kepada Allah SWT semoga anak-anaknya, cucu-cucunya dan kerabatnya diberi kesabaran dan ketabahan; dan semoga mereka mendapatkan hiburan yang baik.

﴿إِنَّا للهِ وَإِنّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾

Kita semua milik Allah, dan kita semua akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 156).

 

Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir

Jumada II 1437 H. / Maret 2016 M.

Sumber: http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/dawahnews/cmo/36387#sthash.TUFK3UcT.dpuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*