Islam Menjaga Kehormatan dan Kemuliaan Keluarga

HTI Press. Bogor. Pada Sabtu (4/6/2016), Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) DPD II Kota Bogor mengadakan acara Diskusi Terbatas Tokoh Muslimah Bogor bertema “Islam Menjaga Kehormatan dan Kemuliaan Keluarga” di Kantor DPD 2 MHTI Bogor, Jalan KS Tubun No. 19A Bogor.

Acara yang dihadiri tokoh-tokoh ormas dan intelektual ini berlangsung hangat dan penuh suasana keakraban dengan dipandu oleh Ustazah Ir. Riril Nuril Huda.

Ustazah Fera Kusmerlin (DPD 2 MHTI Kota Bogor) dalam sambutannya menyampaikan bahwa kondisi umat yang semakin parah saat ini disebabkan iman yang lemah dan juga sistem yang rusak. “Sebetulnya sudah banyak kaum muslim yang peduli dan bangkit ghirah islamnya, namun belum tertunjuki dengan solusi Islam,” bebernya.

Pembicara 1

Sebagai pembicara pertama, Ustazah Dra. Ratna Soeminar (Koordinator Lajnah Fa’aliyah MHTI DPD 2 Kota Bogor) memaparkan materi bertema “Keluarga Muslim dalam Cengkeraman Liberalisme Kapitalisme”. Beliau menyebut bahwa saat ini keluarga adalah sasaran utama kehancuran. Liberalisme mengajarkan banyak hal tentang kebebasan, diantaranya seks bebas yang berujung pada kehancuran keluarga dan generasi.

Selain itu, lanjutnya, dalam era kapitalisasi saat ini, menjadikan fungsi utama perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga cenderung berbelok arah menjadi pencari ekonomi keluarga. Berbagai kasus kejahatan dan eksploitasi terhadap perempuan terus marak terjadi.

Saran solusi terhadap kondisi seperti ini sudah banyak bermunculan, namun tidak terintegrasi, (kontradiktif) dan pragmatis. “Berbagai solusi yang ada dikembalikan kepada keluarga. Akan tetapi begitu masifnya arus liberalisasi, membuat keluarga tidak mampu membentengi diri sendiri dan mengharuskan negara untuk mengambil peran sebagai benteng umat dengan menerapkan aturan dari Allah SWT secara kaffah dalam kehidupan,” jelasnya.

Pembicara 2

Ustazah Ir. Rini Kusumawarni (DPP MHTI) sebagai pembicara kedua dalam materi “Islam Menjamin Kemuliaan dan Kehormatan Keluarga Muslim”, memaparkan bahwa ada 3 pilar benteng keluarga Muslim: (1) Penanaman benteng iman dan takwa pada individu dan masyarakat, (2) Masyarakat cerdas dan peduli, (3) Negara sebagai penanggung jawab dan pelindung.
Sistem yang diterapkan haruslah sistem sanksi Islam yang bersumber dari Allah Swt., dan sistem yang menjadi penebus dosa dan melahirkan efek jera.

“Sistem yang sekarang berlaku terbukti tidak membuat jera. Berbagai perilaku kejahatan terjadi dan berulang kembali,” tegasnya.

Oleh karenanya, kata dia, dibutuhkan sistem sanksi yang mumpuni yakni dari Allah Swt., dalam naungan Daulah Khilafah Rasyidah.

Peserta

Dalam sesi diskusi, para peserta sangat aktif memberikan pendapatnya. Ibu Dwi, (Poltekkes Prodimar Kota Bogor) menyatakan bahwa saat ini rasa aman sudah hilang. Ancaman kekerasan seksual ada di mana saja dan kapan saja.

Oleh karena itu harus ada perubahan yang berasal dari negara. Negara harus mampu melaksanakan fungsinya sebagai pelindung masyarakat. “Jadilah ibu cerdas, yang tidak hanya berjuang untuk diri sendiri tapi untuk ummat,” ajaknya.

Ibu Hj. Elisahna (Muslimat NU Kota Bogir) juga sepakat bahwa kondisi sudah semakin kacau balau. Peran wanita sebagai istri dan ibu sudah semakin tidak jelas. Langkah yang harus ditempuh adalah wanita harus kembali ke fitrah dan kodratnya. Mengembalikan tugas utama ibu sebagai pendidik anak, pengurus suami dan pengurus rumah tangganya adalah sesuatu yang sangat penting. Dan beliau siap untuk menyampaikan hasil diskusi kepada jamaah majelis taklim yang beliau asuh.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*