Muslimah HTI Kediri Bersama Tokoh Muslimah Kampung Inggris Mendiskusikan Pendidikan Islam

MHTI kediri

HTI Press. Kediri. Sebagai follow up Konferensi Perempuan Internasional yang dihelat di Jakarta awal Maret lalu, DPD II Muslimah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) Kab. Kediri menggelar Diskusi Tokoh Muslimah, Ahad (26/03/2017) bertajuk “Khilafah dan Pendidikan: Menghidupkan Kembali Masa Keemasan”, di Basic English Course (BEC), lembaga kursus Bahasa Inggris tertua di Kampung Inggris. Puluhan tokoh muslimah hadir, di antaranya, Ibu Tsuwaibah seorang mubalighah, Ibu Naili pemilik sebuah tempat kursus Bahasa Inggris Hakim Learning Center; dan Ibu Astri, tokoh muslimah Kediri.

Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Quran surat Al-Mujadilah: 11 dan Ali Imron: 110. Ayat tersebut menyebutkan bahwa kaum yang berilmu adalah orang-orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah Swt., menuju terwujudnya khoyru ummah.

Sambutan disampaikan oleh DPD II MHTI Kediri oleh Ibu Nur Aini, S.Si. Sementara selaku pembicara, Ibu Dwi Puji Utami, S.Pd, seorang praktisi pendidikan, dan Ibu Nurifatul Laela, S.Kom, seorang tokoh intelektual muslimah. Keduanya juga merupakan aktivis MHTI.

MHTI kediri

Bu Dwi menyampaikan penyebab krisis pendidikan di dunia Islam. “Krisis pendidikan di dunia Islam adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari saat ini. Tersebab oleh sekularisasi, sistem demokrasi memberikan kesempatan luas bagi menyusupnya tujuan pendidikan asing,” jelasnya.

Ini berlanjut pada mulusnya kapitalisasi dan komersialisasi pendidikan besutan ideologi kapitalisme. Akibatnya, pendidikan hanya sekedar wahana bagi profesionalisasi keahlian individu dan kepuasan intelektual. “Kondisi ini tak mampu mewujudkan pendidikan sebagai jalan menuju peningkatan taraf berpikir insan terdidik,” bebernya.

Menurutnya harus ada perubahan. Masyarakat perlu tatanan baru penunjang sistem pendidikan yang mengemban misi keumatan.

Mengamini penjelasan Bu Dwi, Bu Laela pun mengetengahkan visi untuk pendidikan Khilafah, dalam rangka menghidupkan kembali generasi dan peradaban emas.

“Berpondasi pada akidah Islam, Khilafah akan menerapkan kurikulum pendidikan yang tidak bertentangan dengan Islam,” terangnya.

Beranjak tengah hari, diskusi berjalan lancar dan mencerahkan. Sebagai penutup, kedua pembicara mengajak para tokoh muslimah untuk bersama menyatukan pemikiran dan langkah, menjadi bagian dari dakwah. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*