Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyampaikan, Pemerintah Indonesia akan mengedepankan kepentingan nasional dalam menanggapi gejolak politik di Mesir. Di samping itu, pemerintah akan memosisikan diri sebagai negara demokratis yang turut memajukan prinsip hak asasi manusia.
“Penting menampilkan sosok Indonesia yang demokratis dan memajukan prinsip-prinsip HAM. Aspek ini akan kita kelola dan kedepankan dengan baik. Penyampaian jati diri sebagai negara demokrasi harus diselaraskan dengan aspek perlindungan warga kita,” kata Marty dalam rapat dengar pendapat umum dengan Komisi I DPR di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (2/2/2011).
Selain hal tersebut, yang tidak kalah penting, kata Marty, adalah menjaga hubungan persahabatan dengan Mesir yang sudah terjalin sejak lama. “Tidak bicara dengan Pemerintah Mesir atau rezim tertentu. Hubungan Mesir bersahabat. Mesir negara pertama yang mengakui Indonesia. Hubungan ini harus diselaraskan, mengharapkan korban jiwa dapat dihindari,” paparnya.
Saat ini, menurut Marty, pemerintahan Presiden Mesir Hosni Mubarak telah sampai pada masa transisi. “Mubarak mengatakan tidak akan ikut pemilu. Ini tanda proses transisi sudah dimulai di Mesir,” katanya. Diharapkan, masa transisi tersebut akan berjalan secara damai dan tanpa konflik.
Selanjutnya, untuk menjaga keamanan warga negara Indonesia yang berada di sejumlah negara yang tengah dilanda konflik politik, seperti Mesir dan Tunisia, pemerintah meminta perwakilan di sana untuk mempertajam sistem respons darurat. (kompas.com, 2/2/2011)
Hizbut Tahrir Indonesia Melanjutkan Kehidupan Islam

“Penting menampilkan sosok Indonesia yang demokratis dan memajukan prinsip-prinsip HAM.Penyampaian jati diri sebagai negara demokrasi harus diselaraskan dengan aspek perlindungan warga kita,” kata Marty .Faktanya adalah pemerintahan Mesir mematikan semua jaringan internet, telepon, tv,mengerahkan 1.500 pasukan komando Zionis Israel dan 5 ribu baduwi bayaran dikerahkan untuk membubarkan para pendemo anti-rezim Hosni Mubarak., umat telah merasakan buah pahit nasionalisme, demokrasi komunisme, dan kediktatoran. Sekarang merindukan manisnya Islam. saatnya HIZBUT TAHRIR memimpin dunia dengan SYARIAH dan KHILAFAH, Allahu AKBAR 10000000000000000000X.
Serukanlah:
saatnya KHILAFAH memimpin DUNIA dengan SYARIAH,
jangan serukan:
saatnya HIZBUT TAHRIR memimpin DUNIA dengan SYARIAH dan KHILAFAH.
bukan apa-apa, bagus memang sebagai motivasi sekaligus pentaqriran bahwa Hizbut Tahrir adalah yg paling concern dalam perjuangan syariah dan khilafah, tapi ada negatifnya juga, dikhawatirkan syetan menyelinap lalu menghembuskan rasa ta’asub/kibr ke dalam dada-dada kita. Disamping menghindari kesan ashabiyyah.
tetaplah serukan: saatnya KHILAFAH memimpin DUNIA dengan SYARIAH dan KHILAFAH. karena SYARIAH dan KHILAFAH milik seluruh umat bukan hanya Hizb.
That’s better.
Beginilah mental bangsa terjajah senantiasa terbelenggu oleh jejak langkah tuannya, mempertahankan demokrasi akan menggiring bangsa ini kejurang kehancuran, tidak cukupkah contoh yang ada di Timur tengah sana, apakah kita harus meniti jalan yang sama guna mendapoatkan pelajaran yang nyata, kembalilah pada syariah dan terapkan sebagai sistem dalam kehigupan berbangsa dan bernegara inilah solusi terbaik bagi ummat ini.
Andai Indonesia satu kepemimpinan negara dengan Mesir, di bawah naungan Syari’ah dan Khilafah….
Negeri-Negeri Islam sudah Rindu akan Syariah dan Khilafah, tidak ada mesir seperti sekarang di setir Negeri-negeri kafir