Sukses itu harus diperjuangkan. Sebuah kesuksesan pastilah disokong oleh orang-orang yang mau dan mampu bekerja secara konsisten dalam meraih tujuan. Untuk sekadar meng-goal-kan pasangan capres-cawapres saja butuh tim yang mantap dan serius. Apalagi demi kemenangan Islam, tentu dibutuhkan tim yang handal.
Seorang yang hebat dan berkuasa bisa dikalahkan oleh sekelompok orang yang solid. Demikian pula jika dikaitkan dengan masalah dakwah. Misi mulia sekaligus berat ini akan berjalan baik ketika dilakukan secara berjamaah/bersama-sama/tim. Lantas bagaimana membangun tim dakwah yang sukses?
Tim yang inovatif dan produktif tidak hanya mampu membesarkan tubuhnya, namun juga didukung oleh individu-individu yang kokoh mengemban dakwah.
Tim dakwah yang produktif ini meniti perjalanannya bermodalkan ideologi Islam sebagai asas dan pengikat antaranggotanya. Tiap individu di dalam tim harus mengeksplorasi dirinya untuk kepentingan dakwah. Jangan sampai ada satu orang pun yang ‘sepi’ dari tugas dakwah yang mulia ini. Setiap orang mengerahkan segenap potensinya yang bersifat khas. Ada yang mampu menulis, maka menulislah. Ada yang mampu berbicara di depan umum, bicaralah dengan lantang tentang indahnya naungan Islam. Ada yang ahli ekonomi, berdayakan ia di bidangnya. Rasulullah saw. kerap memetakan para sahabatnya sesuai dengan potensi masing-masing. Celakalah menyerahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya. Jangan beralasan, ‘saya tidak punya keahlian’. Mungkin ada anggota tim dakwah ‘yang belum ahli’ dalam hal-hal tertentu. Namun, dengan adanya kemauan dan proses belajar, insya Allah keahlian apapun bisa dikuasai.
Adakan pertemuan rutin guna membahas program dakwah, variasi uslub, propaganda kekinian dan perihal semisalnya. Rumuskan kemenangan dakwah ini dengan parameter yang terukur. Kemenangan yang tidak terukur membuat tim dakwah kita terjebak dalam kebingungan dan menang dalam angan-angan. Telitilah dalam menjalankan program, baik hal-hal yang besar tanpa mengabaikan hal-hal kecil.
Sebab tidak ada yang sempurna, maka perlu muhasabah tiap kali program selesai dijalankan. Jangan sampai kemajuan dan kemunduran dakwah, tidak terkoreksi karena minimnya pemantauan di dalam tim. Tim yang sehat ialah tim yang mampu terbang bersama dalam keberhasilan dan saling bantu di masa keterpurukan.
Beginilah tim dakwah yang kuat dan ranum menghasilkan buah kebaikan yang banyak. Insya Allah, dengan membentuk tim yang sukses ini, maka kesuksesan dakwah berada di pelupuk mata. Allahu Akbar! [Alga Biru; Redaktur Majalah Remaja Islam DRISE, tinggal di Medan]