Korban Pertama UU Khutbah di Mesir
Ironis, korban pertama pemberlakuan Undang-Undang (UU) Penertiban Khutbah dan Kajian Keagamaan di masjid-masjid di Mesir justru loyalis Jenderal al-Sisi. UU baru membatasi khutbah hanya bagi para imam dari Al-Azhar dan Kementerian Wakaf.
Berdasarkan UU tersebut, Kementerian Wakaf memiliki hak untuk melaporkan dan menyeret ke Pengadilan setiap orang yang menyampaikan khutbah, kajian keagamaan dan yang sejenisnya tanpa izin. UU akan menghukum siapa saja yang melakukan semua itu dengan kurungan penjara dan denda.
Al-Jazeera memberitakan, korban pertama itu tidak lain Younis Makhyoun, Presiden Partai Salafi an-Nur. Dia sendiri dikenal pendukung rezim militer. Presiden Partai an-Nur ini dilarang menyampaikan khutbah pada Jumat (13/6) di Provinsi Bahera yang merupakan tempat tinggalnya. Makhyoun dikabarkan mengeluarkan pernyataan yang mengecam UU ini.
Allah SWT berfirman: Perumpamaan orang-orang yang mengambil para pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat sarang. Sesungguhnya sarang yang paling lemah adalah sarang laba-laba kalau saja mereka tahu (TQS al-Ankabut [29]: 41).
Inilah pesan penting bagi umat Islam, bahwa siapa saja yang mengambil para pelindung selain Allah, sesungguhnya ia telah menyerahkan dirinya pada laba-laba betina. Hewan ini tidak hanya mencegah menghalangi bantuan untuk anak-anak mereka, tetapi lebih dari itu, ia akan memakannya [Abu Malik/Hizb-ut-tahrir.info, 16/6].
Cina Rekayasa Hukuman Mati Muslim Turkistan Timur
Seperti yang diberitakan BBC (28/5), 55 orang telah dijatuhi hukuman setelah mereka dituduh melakukan aksi terorisme, menuntut pemisahan diri dari Cina dan melakukan tindak pembunuhan di lapangan olahraga di wilayah barat laut Xinjiang. Tiga di antaranya dijatuhi hukuman mati. Mereka dikaitkan dengan serangan terhadap sebuah pasar di salah satu jalan Urumqi, di Xinjiang, nama yang dibuat Cina untuk Turkistan Timur. Namun, tidak satu pun kelompok Uighur yang mengaku bertanggung jawab atas insiden itu.
Kaum Muslim Turkistan Timur masih menjadi orang asing dan pengemis di negeri dan di rumah mereka sendiri. Turkistan Timur adalah wilayah yang kaya dengan sumber-sumber mineral seperti hidrokarbon, emas dan uranium. Namun, standar hidup kaum Muslim Uighur berada pada tingkat terendah di Cina. Pemerintah Cina memboyong jutaan orang Cina dari suku Han ke wilayah Turkistan Timur untuk meminggirkan umat Islam di sana. Muslimah Uighur dipaksa menggugurkan bayi mereka atas nama program “satu anak untuk satu keluarga”.
Tujuan sebenarnya di balik ini tidak lain untuk mengurangi jumlah kaum Muslim. Pemerintah Cina juga melancarkan serangan sengit terhadap segala sesuatu yang melambangkan identitas Islam, seperti hijab. Surat kabar Daily Xinjiang yang dikontrol Partai Komunis, tahun 2013, membuat opini jubah hitam yang dikenakan Muslimah Turkistan Timur menyebabkan kegelisahan dan ketakutan di antara anak-anak [Muhammad Hamzah/hizb-ut-tahrir.info, 10/6].
Serangan Karachi: Aliansi Jahat Rezim Raheel-Nawaz dengan AS
Dalam siaran persnya (9/6) Hizbut Tahrir Wilayah Pakistan mengutuk serangan terhadap Karachi serta memohon kepada Allah SWT agar memberikan balasan yang baik kepada para korban serangan dan memberikan kesabaran bagi keluarganya.
Ahad (8/6) hingga pagi (9/6) para penyerang memasuki Bandara Karachi. Serangan yang sama pernah terjadi terhadap Pangkalan Angkatan Laut Mehran di Karachi dan Pangkalan Angkatan Udara Kamra. Serangan ini mengundang tanda tanya besar. Pasalnya, para penyerang bersenjata lengkap memasuki wilayah sensitif begitu mudahnya seolah-olah itu adalah taman bermain sekolah.
Sudah menjadi rahasia umum, setiap operasi militer tidak bisa dilepaskan dari perintah Amerika. Serangan brutal dan mematikan yang tiba-tiba meningkat dengan target militer dan sipil tidak lain untuk membangun opini yang membenarkan operasi militer. Melalui serangan tersebut, kaum Muslim Pakistan dipaksa menerima anggapan bahwa “Perang Melawan Teror” bukanlah Perang Salib Amerika, melainkan perang kita sendiri. Serangan tersebut adalah akibat dari aliansi jahat antara rezim Nawaz dengan AS.
Dalam pernyataannya, Hizbut Tahrir Pakistan meminta para perwira angkatan bersenjata Pakistan yang tulus untuk memikirkan berapa lama lagi mereka menyaksikan angkatan bersenjata dan rakyat negeri ini dibakar sebagai bahan bakar bagi Perang Salib Amerika? Hizbut Tahrir menegaskan, sebagaimana rezim Musharraf-Aziz dan Kayani-Zardari, rezim Nawaz bertanggung jawab atas pembantaian personil militer dan rakyat sipil untuk mengamankan kepentingan Amerika.
“Situasi memalukan ini hanya dapat dihapus setelah Anda melenyapkan para pengkhianat dalam kepemimpinan politik dan militer dan memberikan nushrah kepada Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah. Berikutnya Khalifah akan bertindak mengusir semua personil militer, diplomatik dan intelijen negara musuh dan membersihkan negeri-negeri Islam dari kehadiran pasukan mereka yang beracun dan kotor,” tegas Shahzad Shaikh, Wakil Juru Bicara Hizbut Tahrir Wilayah Pakistan.
Doa Bersama Perdamaian Palestina di Vatikan: Penyesatan Politik
Doa Bersama di Vatikan pada ahad (8/6), tidak akan membawa perubahan apa-apa terhadap kondisi rakyat Palestina. Seperti yang diberitakan VOA Online (10/6), Presiden Israel Shimon Peres dan pemimpin Palestina Mahmoud Abbas hadir dalam acara doa bagi perdamaian di Vatikan Minggu (8/6) atas undangan Paus Fransiskus. Presiden Israel Shimon Peres dan pemimpin Palestina Mahmoud Abbas hari Minggu (8/6) ikut bersama Paus Fransiskus di Vatikan dalam acara doa yang belum pernah terjadi sebelumnya, demi perdamaian di Timur Tengah.
Paus Fransiskus yang berasal dari Argentina itu kemudian menyampaikan kepada Mahmoud Abbas dan Shimon Peres bahwa “perdamaian memerlukan keberanian yang jauh lebih penting daripada perang”. Paus Fransiskus merumuskan keberanian sebagai “kesediaan untuk mengatakan ‘iya’ untuk berunding dan ‘tidak untuk perang”.
Doa bersama ini hanya upaya sia-sia bagi penyelesaian masalah Palestina. Pasalnya, akar masalah persoalan Palestina, yaitu penjajahan Israel di bumi al Quds, tidak tersentuh sama sekali. Selama penjajah Israel masih bercokol di negeri Islam Palestina, maka persoalan Palestina tidak akan pernah selesai.Doa bersama tidak lain merupakan penyesatan politik untuk mengalihkan dari persoalan utama ini.
Patut juga dipertanyakan peran Vatikan, yang hanya menyerukan doa dan perdamaian. Di sisi lain, Vatikan tidak pernah menyoal penjajahan Israel di bumi Palestina.
Walhasil, satu-satunya jalan menyelesaikan persoalan Palestina adalah dengan membebaskan al-Aqsha dari penjajahan Israel, mengusir Israel yang didukung penuh oleh Amerika membutuhkan tentara-tentara dari negeri-negeri Islam. Untuk memobilisasi tentara ini, mustahil tanpa adanya komando yang satu. Di sinilah letak penting umat Islam untuk menegakkan Khilafah. Negara adidaya ini akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan memobilisasi tentera-tentara terlatih dari negeri-negeri Islam membebaskan Palestina.[Dari berbagai sumber]