HTI

Kisah Inspiratif

Pernik KIP: Meski Hujan Abu Vulkanik, Tetap Semangat Sukseskan KIP

Hujan abu vulkanik akibat meletusnya Gunung Api Sangeangapi di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (30/5) petang, tidak menyurutkan panitia untuk menggelar Konferensi Islam dan Peradaban (KIP) sesuai jadwal.

Sebetulnya, tanpa ada musibah pun, tantangan bagi panitia cukup berat. Apalagi ini merupakan pengalaman pertama panitia dalam mengadakan acara besar. Posisi rumah mereka pun sangat berjauhan mulai dari 45 Km hingga 100 Km dari pusat Kota Bima. Ini jelas tantangan tersendiri ketika diharuskan rapat tatap muka.

Namun, panitia tetap bertekad menggelar acara sesuai jadwal, yakni pada 1 Juni 2014 meski dibayangi pembatalan pembelian tiket oleh peserta lantaran hujan abu vulkanik. Karena itu panitia di berbagai sektor berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan peserta tetap bisa hadir pada hari pelaksanaan KIP.

Sayang, pada Sabtu (31/5) pembicara dari DPP HTI batal hadir lantaran Bandara Kota Bima ditutup akibat tebalnya debu vulkanik. Hal ini pun membuat suasana jadi tegang. Ketegangan sedikit sirna ketika pengurus DPD HTI NTB bersedia menjadi pembicara pengganti.

Cobaan tidak hanya di situ. Pada 31 Mei pukul 16.00 Wita, panitia seharusnya sudah mulai melakukan persiapan pemasangan perlengkapan dan gladi bersih. Sayang, ketika panitia sudah di tempat, ada instansi lain yang sedang mempersiapkan acara pada tempat yang sama dan acaranya pun dimulai jam 19.00 Wita sampai 23.30 Wita. Alhamdulillah, masalah ini tidak membuat semangat panitia mengendor sedikit pun.

Masalah belum berakhir. Pasalnya, pada pukul 20.00, ketika panitia mulai melakukan gladi bersih di tempat lain, tiba-tiba ada telepon dari salah satu tokoh calon peserta KIP yang mengatakan bahwa HTI telah membatalkan acara KIP. Tentu saja itu tidak benar. Namun, informasi menyesatkan dari pihak yang menginginkan acara ini gagal sudah menyebar ke mana-mana.

Ini tentu membuat ketegangan kembali memuncak. Dengan kepala dingin, panitia di setiap sektor menginformasikan kepada para calon peserta lewat sms bahwa acara tetap dilaksanakan.

Pada pukul 00.00 Wita, panitia menuju tempat pelaksanaan KIP dan mulai memasang properti dan perlengkapan lain sampai pukul 03.30 dini hari. Alhamdulillah, KIP pun berjalan lancar sesuai dengan jadwal di Gedung Paruga Na’e Convention Hall Kota Bima dengan dihadiri sekitar 700 peserta dari berbagai daerah di NTB.

Nyaris Dibatalkan

Tiga hari sebelum hari-H, KIP Luwu Timur pun hampir digagalkan. Pasalnya, pengelola gedung meminta panitia untuk melengkapi rekomendasi dari external relation. Tentu bukan perkara mudah untuk meminta persetujuan pihak terkait. Pasalnya, Kamis dan Sabtu adalah hari libur.

Praktis panitia hanya punya hari Jumat untuk memastikan semua proses tersebut atau panitia batal memakai Gedung F Gym Soroako dan mencari alternatif tempat lain. Namun, itu alternatif yang tidak boleh dilakukan. Pasalnya, hanya gedung inilah satu-satunya di Kab Luwu Timur yang mampu menampung 1000-an peserta.

Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, hari Jumat panitia berhasil melobi Camat Nuha Kamal Rasyid sehingga ia bersedia menjamin kelancaran dan keamanan acara. Atas jaminan itu, pengelola gedung bersedia tempatnya dipakai KIP.

Kurang-lebih jam 23.00 sebelum acara, panitia dikagetkan dengan seorang pemilik usaha multimedia yang bernama Rano dan empat anak buahnya yang membawa peralatan dekorasi lengkap dan LCD besar untuk pemutaran film. “Pak kami tidak punya dana lagi untuk menyewa ini semua, lagi pula kami sudah siapkan semua dengan LCD kecil kami,” kata panitia.

Rupanya, Rano bersimpati dengan kegiatan KIP sehingga ia mengratiskan peralatannya. “Ini semua gratis silakan dipakai LCD besar. Ini cocok untuk pemutaran dokusinema besok. Empat orang ini dan peralatan dekorasi saya perbantukan untuk mempercantik dekorasi yang sudah ada,” kata Rano.

Ketika acara berlangsung pun tampak hadir Camat Nuha, Camat Wasuponda, Kapolsek Nuha, Ketua UPT Disnakertrans, Ketua FKUB Luwu Timur, MMI Luwu Timur, pimpinan Ponpes Darul Hijrah Luwu Timur, para tokoh masyarakat, tokoh adat, kalangan pengusaha, profesional, pengurus YPRI Al-Ikhwan Sorowako, Pengurus Persatuan Muballigh Luwu Timur, Pengurus Aisiyah Luwu Timur, Pengurus Muslimat NU Luwu Timur, para mubhalligin/mubhallighat, para guru, tokoh pemuda dan masyarakat umum.

Selesai acara, 20 orang rombongan dari daerah Pegunungan Mahalona (Lokasi Transmigrasi yang ditempuh 5 jam perjalanan dari Soroako) menemui Ketua HTI Lutim dan pembicara dari DPP HTI Yasin Muthahhar. Mereka menyatakan ingin turut berjuang dan siap dibina HTI Lutim. Bahkan salah seorang tokoh FKUB yang terkenal bersebarangan dengan Hizbut Tahrir di Kecamatan Wasuponda menyatakan ingin turut berjuang dan dibina. “Tolong Ustadz dicatat nama dan nomer HP serta alamat saya, mulai hari ini saya bergabung dengan HTI,” ungkapnya.

Rindu Khilafah Tegak

Demi menghadiri KIP Medan, Prof. Dr. Sri Milfa Yetty, MS Kons membatalkan pertemuan Guru Besar se-Indonesia di Bali pada hari yang sama, Ahad (1/6). Hal itu ia lakukan karena ia setuju terhadap ide-ide Hizbut Tahrir dan menganggap perjuangan Hizbut Tahrir untuk menegakkan Khilafah adalah aktivitas yang mulia.

Sebagai akademisi dan guru besar Universitas Medan, ia memahami betul fakta sistem saat ini yang rusak dan merusak. Sebagai akademisi pendidikan, Sri Milfa merasa bertanggung jawab. Karena itu ia berupaya semaksimal mungkin untuk menyempatkan diri hadir dan menyukseskan konferensi ini.

Semangat serupa ditunjukkan pula oleh warga lereng Gunung Merapi untuk menyukseskan KIP Magelang. Warga Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang yang berlokasi 5 Km dari puncak Merapi, misalnya. Tak tanggung-tanggung, seluruh warga berkomitmen untuk hadir dan hanya menyisakan sebagian warga untuk menjaga keamanan kampung. “Alhamdulillah acara dilaksanakan di Magelang sehingga kami bisa berangkat agak santai. Tidak seperti Muktamar Khilafah tahun lalu yang dilaksanakan di Semarang. Kami harus berangkat jam 2 malam dari rumah menuju titik kumpul di desa Sewukan. Sebab, bus besar tidak bisa menjangkau daerah kami yang memang jalannya kecil,” tutur Mak Ari, salah satu kordinator warga.

Subhanallah! Luar biasa! Kerinduan warga Krinjing akan aturan Islam menjadikan mereka tidak segan-segan merogoh koceknya untuk membayar tiket KIP dan biaya transportasi untuk sewa bus. Alhasil, ratusan warga pun turun gunung layaknya bedol desa untuk menghadiri KIP. “Kami sangat rindu dan kami sangat mendukung penerapan aturan Allah di muka bumi ini,” tutur Ustadz Mardho, Ketua Paguyuban Takmir Masjid Desa Krinjing, ketika ditanya alasannya mengapa selalu menghadiri acara HTI. [Joko Prasetyo, dari kontributor daerah]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*