HTI

Berita Dalam Negeri

Ust. Muhammad Rahmat Kurnia: Ramadhan, Momentum Melipatgandakan Perjuangan dan Pengorbanan

Pengantar Redaksi:

Ramadhan sejatinya bukan sekadar bulan puasa. Ramadhan adalah bulan yang harus dijadikan momentum untuk taqarrub secara total dan dalam makna yang seluas-luasnya. Di antara bentuk taqarrub itu adalah amal dakwah. Dakwah tentu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Pada bulan Ramadhan, perjuangan dan pengorbanan ini selayaknya dilipatgandakan.

Untuk lebih mendapatkan penyegaran sekaligus pencerahan dalam menghadapi Ramadhan, kali ini Redaksi mewawancarai Ustadz H. Muhammad Rahmat Kurnia dari DPP Hizbut Tahrir Indonesia. Berikut petikan wawancaranya.

 

Ustadz, bulan Ramadhan telah datang kembali. Apa saja pesan moral dari Ramadhan bagi kita?

Banyak sekali pesan yang dapat kita petik dari shaum pada bulan Ramadhan. Di antaranya adalah pesan ketakwaan. Kita ingat betul, capaian yang hendak diraih dari shaum Ramadhan adalah ‘la’allakum tattaqûn’ (agar kalian bertakwa). Takwa itu intinya ada tiga yaitu: (1) al-khawf min al-Jalil (takut kepada Allah, Zat Yang Mahaperkasa); (2) al-‘amali bi at-tanzîl (mengamalkan wahyu yang diturunkan); (3) al-isti’dâdu li ar-rahîl (persiapan menyongsong perjalanan menuju akhirat). Jadi, tatkala kita menjalani shaum Ramadhan kita mesti berupaya menjadikan diri kita makin takut kepada Allah SWT. Ini harus ditunjukkan dengan makin terikat dengan akidah dan syariah Islam serta menjadikan akhirat sebagai pelabuhan terakhir tanpa melupakan dunia.

Pesan lain adalah menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pegangan hidup. Kita tahu, al-Quran pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, kaum Muslim mengenal istilah malam Nuzûl al-Qurân (turunnya al-Quran) pada bulan Ramadhan. Kita hanya berpegang pada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw., bukan pada ajaran John Lock, JJ Rousou, Adam Smith, Machiavelli, dan lainnya.

Rasulullah saw. berpesan untuk banyak melakukan taqarrub kepada Allah. Beliau mengatakan, siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan di dalamnya sama dengan orang yang menunaikan perkara fardhu; siapa yang menunaikan suatu yang fardhu dalam bulan Ramadhan sama dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lainnya. Pesan moral lainnya adalah untuk senang berbagi, bersabar dan memperhatikan umat manusia.

Apakah Ramadhan juga mengandung pesan perjuangan?

Ya, tentu saja. Bahkan bukan sekadar perjuangan, melainkan Ramadhan juga mengandung pesan pengorbanan. Kita masih ingat pada 17 Ramadhan tahun 2 H, hari Jumat pagi, pasukan kaum Muslim berhadap-hadapan dengan pasukan Quraisy dalam Perang Badar. Pertempuran ini langsung dipimpin oleh junjungan kita Rasulullah Muhammad saw. Pasukan beliau hanya berjumlah 313 orang, sementara pasukan Quraisy lebih dari 1000 orang. Perlengkapan pun tidak sebanding. Hati beliau pilu menyaksikan realitas ini. Tidak terbayang apa yang akan terjadi pada umatnya sekiranya kaum Muslim tidak dapat meraih kemenangan. Lalu beliau segera menghadapkan wajahnya ke kiblat. Beliau tepekur dalam doa, “Allahumma, ya Allah. Ini Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Allahumma, ya Allah, aku mohon pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Allahumma, ya Allah, andai saja pasukan kecil ini binasa hari ini maka tidak ada lagi yang akan menyembah-Mu setelah hari ini.”

Kita lihat, bulan Ramadhan saat terjadi Perang Badar dijadikan sebagai momentum perjuangan dan pengorbanan. SubhanalLah, Allahu Akbar!

Seperti apa kesungguhan Rasul dan para Sahabat pada bulan Ramadhan dalam kondisi mereka berpuasa?

Rasulullah saw. beserta para sahabatnya bersungguh-sungguh dalam Ramadhan. Kesungguhan itu tercermin dalam doa sejak dua bulan sebelum Ramadhan, bulan Rajab dan Sya’ban. Mereka senantiasa meminta keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta memohon disampaikan usia hingga bulan Ramadhan. Tak cukup berdoa, mereka pun melakukan banyak amal kebaikan selama dua bulan itu sehingga tatkala Ramadhan tiba mereka sudah dalam kondisi prima.

Mereka menyambut Ramadhan penuh kesungguhan. Menjelang Ramadhan para Sahabat mendengarkan khutbah dari Rasulullah saw. Pada saat bulan Ramadhan mereka tetap bekerja sambil menunaikan shaum. Malam harinya melaksanakan qiyamul-layl dan men-tadabburi al-Quran. Sedekah yang mereka berikan bertambah. Bahkan pada saat perut dalam keadaan kosong mereka melakukan perang seperti terjadi dalam Perang Badar tanggal 27 Ramadhan tahun 2 H. Pada saat perut keroncongan mereka memasuki Kota Makkah untuk melakukan futuh Makkah pada 21 Ramadhan tahun 8 H. Rasulullah pernah mengutus Ali kw. pada Ramadhan tahun 10 H ke Yaman untuk berdakwah mengajak mereka menganut Islam. Pengahancuran berhala Latta, Uzza dan Manat terjadi pada bulan Ramadhan. Betapa kesungguhan berjuang dan berdakwah pada saat Ramadhan terlihat jelas pada diri Rasulullah saw. dan para Sahabatnya. Mereka seakan tidak merasakan keletihan sebab mereka yakin akan janji Allah, bahwa orang yang sungguh-sungguh memasuki Ramadhan akan diberi rahmat, ampunan dan surga. Keletihan mereka dikalahkan oleh dalamnya kerinduan mereka akan keridhaan Allah SWT.

Bagaimana supaya kesungguhan seperti Rasul dan para sahabat itu bisa juga kita realisasikan, khususnya dalam dakwah?

Nah, kita baru bisa seperti mereka jika kita melakukan apa yang mereka lakukan. Pertama: yakinlah bahwa bulan Ramadhan itu penuh kemuliaan. Bulan ini rahmat, ampunan, ditutup pintu neraka dan terbuka pintu surga. Namun, semua itu hanya akan diberikan pada orang yang shaumnya benar, bukan hanya menahan lapar dan dahaga saja.

Kedua: bulan Ramadhan merupakan bulan pertama kali diturunkan al-Quran. Pada bulan Ramadhan pula Rasulullah saw. selalu menderas al-Quran bersama dengan Malaikat Jibril. Padahal al-Quran itu ditegaskan oleh Allah sebagai petunjuk, penjelasan dan pembeda bagi manusia. Hal ini sejatinya mendorong kita untuk terus mendakwahkan al-Quran sebagaimana Rasulullah saw. dan para Sahabat.

Ketiga: last but not least, lakukan saja. Cara penting agar kita sungguh-sungguh berdakwah saat bulan Ramadhan adalah lakukanlah dakwah itu dengan kesungguhan. Praktikkan!

Bagaimana supaya spirit ketaatan pada bulan Ramadhan itu bisa diperluas menjadi ketaatan dalam seluruh hukum syariah?

Memang hal ini penting diluruskan. Kita harus memaknai bahwa ketakwaan dan ketaatan yang dihasilkan dari shaum Ramadhan bukan sekadar dalam aspek ibadah mahdhah. Sebab, kata Nabi saw., sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan at-Tirmidzi, “Bertakwalah kamu dimana pun kamu berada.” Artinya, taat itu bukan hanya saat shalat, shaum, zikir, atau ibadah mahdhah lainnya. Rasul saw. meminta kita untuk taat kepada Allah SWT saat di rumah, pasar, jalan, kantor, istana negara, ruang pengadilan, dan di mana pun kita berada. Bahkan secara tegas Allah SWT memerintahkan kita untuk masuk Islam secara total (kâffah). Oleh sebab itu, ketaatan dalam bulan Ramadhan harusnya mewujud dalam ketaatan terhadap seluruh hukum syariah.

Bagaimana kaitan Ramadhan dengan manifestasi ukhuwah islamiyah dan persatuan umat?

Persatuan umat tentu tidak cukup hanya dengan Ramadhan. Namun, Ramadhan dapat dijadikan sebagai salah satu momentum untuk persatuan umat. Islam menggariskan bahwa persatuan umat akan tercapai jika dasarnya adalah akidah Islamiyah (iman) sebagaimana terdapat di dalam al-Quran surat al-Hujurat ayat 10. Ramadhan merupakan saat menempa keimanan. Pada bulan suci ini Rasulullah saw. menganjurkan untuk memperbanyak membaca dan mengokohkan syahadat, istighfar, meminta surga, dan memohon perlindungan dari murka Allah dan neraka. Setiap Muslim yang memiliki akidah yang kokoh akan menjadikan Mukmin yang lain sebagai saudaranya.

Kita juga paham, pada bulan Ramadhan kaum Muslim shaum mulai pada hari yang sama, berbuka pada hari yang sama, malamnya melakukan qiyamul-lail bersama, tadarus al-Quran yang juga sama. Semua ini merupakan gambaran bagaimana umat Islam menampilkan persatuan yang indah pada bulan Ramadhan.

Persatuan umat juga landasannya adalah al-Quran: Berpegang teguhlah kalian pada tali agama Allah semuanya, dan janganlah berpecah-belah (TQS Ali Imran [3]: 103). Imam Ibnu Katsir memaknai ‘tali agama Allah’ itu al-Quran.

Al-Quran pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan. Jadi, bulan Ramadhan merupakan momentum untuk merajut dan membangun persatuan umat.

Pada sisi lain, perbedaan awal dan akhir Ramadhan masih terus terjadi. Hal ini lebih disebabkan tidak adanya pemimpin yang dapat menghilangkan perselisihan pendapat. Dalam kaidah fikih yang digali dari berbagai nas dinyatakan: Amr al-Imâm yarfa’u al-khilâf’ (Perintah Imam/Khalifah menghilangkan perbedaan pendapat). Dalam konteks ini jelas, salah satu unsur untuk mewujudkan persatuan umat adalah adanya khalifah. Jelas sekali, Ramadhan merupakan momentum untuk mewujudkan persatuan umat.

Ramadhan demi Ramadhan telah dilalui umat Islam, tetapi kondisi umat tak kunjung mengalami perubahan berarti. Mengapa begitu, Ustadz?

Sebab, kebanyakan umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan individual. Bahkan ada yang menjadikan Ramadhan sekadar momentum perubahan sesaat dan seremonial. Tidak aneh, Ramadhan terus berganti, tetapi perubahan dan kebangkitan umat tidak kunjung terjadi.

Pada sisi lain, seakan-akan Ramadhan tidak berkaitan dengan bulan lainnya. Tengoklah, saat Ramadhan penjualan minuman keras dirazia, hiburan malam ditutup sementara, pembawa acara TV menggunakan kerudung, dan sebagainya. Bagaimana seusai Ramadhan? Semuanya berjalan sebagaimana semula.

Lalu bagaimana supaya Ramadhan bisa merealisasi perubahan?

Ramadhan harus didudukkan sebagai momentum untuk melakukan perubahan.

Perubahan seperti apa yang mesti direalisasikan?

Tentu bukan sekadar perubahan individual, melainkan perubahan masyarakat. Ketakwaan yang harus diraih pada bulan Ramadhan ada dua, yakni ketakwaan pribadi dan ketakwaan masyarakat. Di dalam surat Ali Imran ayat 102 kaum Muslim diserukan untuk menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa, dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan tidak meninggal kecuali dalam kondisi melaksanakan ajaran Islam. Di dalam surat al-A’raf ayat 96 disebutkan: Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa niscaya Kami membukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi. Namun, mereka mendustakan (ayat Kami) sehingga Kami menyiksa mereka akibat apa yang mereka lakukan. Ayat ini mengisyaratkan perlunya membentuk masyarakat yang bertakwa. Jadi, perubahan yang harus dilakukan adalah perubahan individu hingga menjadi individu bertakwa, dan perubahan masyarakat menjadi masyarakat yang bertakwa, yakni masyarakat yang menerapkan seluruh syariah Islam. Dengan kata lain, perubahan itu harus mengarah pada penerapan syariah Islam di tengah masyarakat.

Adakah hubungan Ramadhan dengan dengan perjuangan untuk menegakkan Khilafah?

Seperti sudah saya katakan, perubahan yang harus dilahirkan dari bulan Ramadhan adalah penerapan syariah Islam. Penerapan syariah Islam secara kaffah di tengah masyarakat baru akan sempurna dengan adanya Khalifah.

Selain itu, shaum merupakan benteng (junnah) secara individual. Adapun benteng bagi masyarakat adalah khalifah/imam. Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, “Sesungguhnya imam/khalifah itu adalah benteng, (masyarakat) diperangi dari belakang-nya, dan berlindung dengannya. Jika ia memerintahkan takwa dan adil maka ia akan mendapatkan pahalanya. Namun, jika ia memerintahkan dengan selainnya maka ia akan mendapatkan siksa.”

Dengan demikian ada dua benteng yang harus diwujudkan dalam bulan Ramadhan, yaitu shaum dan khalifah.   Jadi, Ramadhan bukan hanya momentum penerapan syariah Islam melainkan juga momentum perjuangan menegakkan Khilafah. Tidak mengherankan apabila Rasulullah saw. dan para Sahabatnya melakukan futuh Makkah pada bulan Ramadhan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*