Aliansi Militer Bentukan Saudi, Bertempur di Bawah Bendera Amerika
Anggota Kantor Media Hizbut Tahrir Palestina Dr. Maher Al-Jabari mencela pembentukan aliansi militer yang diumumkan oleh Arab Saudi, yang di dalamnya bergabung negara-negara Teluk, Mesir, Pakistan dan Turki, sebagai sebuah pertempuran di bawah bendera Amerika.
Jabari mengatakan bahwa rakyat Palestina telah meminta tolong kepada tentara kaum Muslim untuk membela Al-Aqsa dan mengusir agresi Israel di Gaza, namun para penguasa menolak dan menutup telinganya. Lalu ketika Amerika meminta bantuan mereka dalam perang melawan terorisme, mereka menyambutnya dengan datang tergesa-gesa sambil mengangkat kepalanya.
Seperti dilansir portal pal-tahrir.info, Selasa (15/12/2015), pernyataan Jabari disampaikan dalam testimoninya atas nama delegasi Hizbut Tahrir saat ta’ziyah (berbelasungkawa) kepada Asy-Syahid Abdul Muhsin Hasunah, yang dibunuh oleh tentara Israel Yahudi di al-Quds (Yerusalem). Jabari mengatakan bahwa mereka, para pahlawan, telah memberikan pisau-pisaunya dan menggerakkan mobil-mobilnya setelah kegagalan dan berdiam dirinya para pemilik pesawat dan tank.
Jabari mencela para ‘ulama’ dan corong para penguasa yang bersedia untuk membenarkan logika dan kebatilan para penguasa, bahkan mereka menganggap peperangan para penguasa dalam perang (rancangan Amerika) ini sebagai jihad, sementara itu mereka menyerukan normalisasi dengan negara Yahudi.
Jabari menambahkan bahwa melawan para penguasa, membongkar dan mengungkap persekongkolannya adalah cara untuk meraih syahid, sebagaimana perang. Oleh karena itu, Jabari menganggap bahwa mengungkap aliansi militer dan persekongkolan para penguasa di dalamnya adalah wajib.
Jabari menegaskan bahwa revolusi umat akan membongkar semuanya sehingga tidak ada satu antek pun kecuali akan dia bongkar. Adapun masyarakat telah terbelah menjadi dua kelompok: kelompok beriman yang tergabung dalam pembela umat, dan kelompok kufur yang tergabung dalam barisan para penjajah.
Konferensi Riyadh Berlawanan dengan Tujuan Revolusi Islam Suriah
Anggota Kantor Media DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Farid Wadjdi menyatakan seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, Konferensi Riyadh yang disponsori Saudi menghasilkan keputusan yang berlawanan dengan tujuan revolusi Islam di Suriah. “Antara lain kesepakatan peserta Konferensi untuk membangun negara demokratis. Jelas, negara demokratis yang dimaksud adalah negara sekular yang bukan berdasarkan syariah Islam,” ungkapnya.
Seperti dilansir Kiblat.net dengan mengutip situs Al-Jazeera, Kamis malam (10/12), perwakilan berbagai gerakan oposisi Suriah sepakat membangun negara demokratis dan bukan sistem kerajaan. Negara tersebut merupakan negara politik baru yang tidak ada tempat bagi Bashar Assad dan pilar-pilarnya.
Tidak hanya itu, peserta konferensi ini pun sepakat bahwa semua proses politik di Suriah di bawah pengawasan PBB. Meskipun sudah diketahui pasti, semua kebijakan PBB ada dalam kontrol negera-negara Barat terutama Amerika Serikat.
Termasuk kesepakatan konferensi itu adalah membentuk Badan Tinggi Oposisi Suriah. Badan ini diisi 32 anggota, sepuluh di antaranya perwakilan faksi militer, enam dari Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah, lima dari Badan Koordinator Revolusi dan delapan dari independen.
Perwakilan dari berbagai gerakan oposisi Suriah, yang ada di dalam maupun di luar negeri, sejak Selasa lalu menggelar pertemuan di Riyadh. Konferensi yang difasilitasi oleh Saudi ini bertujuan membentuk kekuatan oposisi bersatu, yang nantinya menjadi wakil untuk bernegosiasi dengan rezim.
Hizbut Tahrir Malaysia Desak Inggris, dan Prancis Hentikan Serangan Udara Terhadap Suriah
Sekitar 150 anggota Hizbut Tahrir Malaysia melakukan longmarch dari Gedung Tabung Haji menuju British High Commision dan Kedubes Prancis di Kuala Lumpur untuk mengirimkan memorandum. Mereka mendesak Inggris dan Prancis untuk menghentikan serangan udara terhadap Suriah, Jumat (11/12/2015).
Seperti diberitakan The Malaymailonline, memorandum tersebut diserahkan Juru Bicara HTM Abdul Hakim Othman kepada Suruhanjaya British High Commission dan Kedubes Prancis setelah shalat Jumat. Memorandum berisi penolakan terhadap serangan ke Suriah. “Desakan kami ini didorong oleh kenyataan bahwa serangan Inggris dan Prancis di Suriah jelas-jelas membunuh umat Islam di Suriah selain menargetkan kelompok-kelompok mujahidin yang memerangan Basyar Assad,” kata Abdul Hakim.
Menurut Wakil Kepala Polisi DSP Mat Zani Ali, demonstrasi berjalan dengan tertib selama satu jam.
Otoritas Palestina Culik Anggota Hizbut Tahrir Yahya Jabar
Pasukan Keamanan Preventif, Preventive Security Force (PSF) menculik Prof. Dr. Yahya Jabar di depan kampus tempatnya mengajar, Sabtu (12/12/2015) di Universitas Arab Amerika, Jenin, Palestina.
Seperti diberitakan pal-tahrir.info, para anggota Keamanan Preventif menunggu saat Dr. Jabar meninggalkan universitas seperti biasanya, dan membuntuti mobilnya seperti aksi koboi Amerika, lalu mereka menangkap dia dan menyita mobilnya.
Otoritas melarang pengacara Jabar untuk mengunjungi dia dan meminta pejelasan terkait kasusnya, serta untuk mengetahui kondisi kesehatannya, sebab Dr. Jabar menderita penyakit jantung.
Hizbut Tahrir menegaskan bahwa Otoritas dan Dinas Keamanan Preventif harus bertanggung jawab atas keselamatan Jabar, dan meminta mereka untuk membebaskan dia segera. Hizbut Tahrir mengatakan bahwa tindakan keji ini menegaskan peran otoritas yang berlepas diri dari kewajiban melindungi rakyat Palestina, dan dimanfaatkan untuk memerangi rakyat Palestina, khususnya memerangi para pengemban dakwah yang berjuang untuk kemuliaan umat, juga kembalinya khilafah yang akan membebaskan Palestina, dan melenyapkan entitas Yahudi.
Khilafah: Pembebas Al-Aqsha dan Penjaga Perempuan Mulia
Untuk menghadapi kebisuan dunia terhadap penjajahan Israel di Palestina, Muslimah Hizbut Tahrir mengkampanyekan Khilafah adalah Pembebas Al-Aqsha dan Penjaga Perempuan Mulia.
Seperti diberitakan hizbut-tahrir.or.id, Ahad (13/12/2015), Muslimah Hizbut Tahrir di jantung Al-Aqsa, tanah yang telah diberkahi Allah berikut sekitarnya, menyimpulkan kampanye global, yang didukung oleh para Muslimah di dunia Islam dan khususnya di tanah yang diberkahi ini. “Kami mengulangi seruan kami kepada tentara-tentara dan mencari dukungan mereka dengan mengatakan, ‘Wahai tentara Allah, bersegeralah memberikan dukungan kepada kaum Muslim, untuk membebaskan tanah yang diberkahi dan meninggikan bendera Islam, mengguncang singgasana para penindas, dan membangun benteng besar Islam dan barisan menuju kami demi pembebasan yang segera tampak.’” tegas mereka.
Sejak awal peristiwa terbaru jumlah syuhada telah mencapai 114 orang termasuk 25 anak laki-laki, satu anak perempuan, dan lima perempuan, serta telah memunculkan ratusan tawanan termasuk sejumlah perempuan dan anak-anak sejak awal Oktober. Semua ini terjadi, sementara tidak ada yang datang untuk menyelamatkan mereka atau memenangkan mereka!
Para Muslimah menegaskan bahwa masalah kaum Muslim adalah satu (dan sama) di setiap tempat: di Palestina dan Suriah, di Tunisia dan Lebanon, di Mesir, Libya dan Sudan, di Afrika Tengah, Mali, dan Somalia, di Irak, Kashmir, dan Myanmar. Semua itu karena mereka semua (kafir penjajah dan antek-anteknya, red.) menentang Islam sementara mereka melabeli Islam dengan terorisme dan melawannya dengan menggunakan segala cara. “Kami di Palestina merindukan untuk dibebaskan dari penindasan orang-orang Yahudi, dan di Syam mereka berjuang demi perubahan nyata, sementara semua orang sekadar berharap dan menunggu kemenangan,” tegas mereka.
Mereka pun berkata, “Apakah Anda tidak tertunduk malu dan merasa rendah sementara saudari-saudari terhormat Anda di seluruh bagian dunia mengalami penghinaan dan degradasi karena hijab dan busana Muslimah mereka?!”
Menurut mereka, bencana-bencana yang menimpa umat Islam memiliki satu penyebab, yang disimpulkan oleh al-Farouq dalam pernyataannya, “Kami adalah orang-orang yang telah dijadikan terhormat dengan Islam oleh Allah, dan ketika kami mencari kehormatan dengan selain Islam maka Allah akan menghinakan kami.”
Inilah keadaannya dan hingga saat ini masih tidak berubah karena sejak runtuhnya Negara Islam, Negara Khilafah, umat Islam telah dilanda kerugian. Negeri-negeri mereka telah dicuri. Sumberdaya mereka dijarah. Darah mereka telah menjadi murah dan telah ditumpahkan. “Kehormatan tidak akan pernah kembali kepada kita, tidak juga ketinggian harkat, martabat, ataupun kita mampu berdiri kecuali kita kembali kepada situasi kita sebelumnya. Suatu kebersamaan/kesatuan tunggal atas jantung seorang lelaki dalam satu negara tunggal yang diatur oleh Kitab Allah dan sunnah Rasul. Metode ini memiliki metode syar’iyyah, yakni nushrah dari ahlul quwwah (pemilik kekuatan) dan pencegahan yang berasal dari putra-putra kita yang pada zaman kita ini diwakili dalam kemiliteran,” pungkas Muslimah HT.
Mualaf Korea, Insya Allah Syahid di Penjara Tiran Uzbekistan
“Mualaf asal Korea, Ann Yevgeny, yang bergabung bersama Hizbut Tahrir di penjara Uzbekistan (insya Allah) syahid di penjara tiran Uzbekistan,” ungkap Direktur Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir Osman Bakhach dalam pers rilis tertanggal Sabtu, 23 Safar 1437 H/5 Desember 2015 M.
Osman mengungkapkan Ann telah syahid, insya Allah, di Penjara UYa-64/51, yang terletak di Kota Koson Distrik Qashqadaryo Region. Lelaki ini lahir tahun 1977, berasal dari Korea dan merupakan penduduk Kota Tashkent.
Sebelum disidang dan ditahan, Yevgeny adalah penduduk Uzbekistan pada umumnya, dan sebagaimana kebanyakan rekan-rekannya yang berasal dari Korea, dia tidak percaya kepada Tuhan, menjalani hidupnya tanpa maksud dan tanpa tujuan. Dia juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan kriminal, kemudian dia ditangkap karena penyalahgunaan dan perdagangan narkoba.
Di penjara, Yevgeny bertemu dengan para syabab Hizbut Tahrir, yang menjelaskan kepada dia tentang ideologi Islam, doktrin dan sistem kehidupan. Allah SWT membuka hatinya untuk menerima iman. Lalu dengan bimbingan dan keberhasilan dari Allah SWT dia pindah dari kegelapan kepada cahaya Islam. Keyakinannya menembus hatinya dan dia menjadi salah satu seorang penolong Islam, dan bergabung dengan para pengemban dakwah sehingga balok penjara yang tebal tidak bisa menghilangkan revolusi keyakinan yang telah menyala di dalam hatinya.
Pengurus penjara terkejut ketika mereka mengetahui bahwa tahanan Korea Ann telah masuk Islam dan mulai berdakwah untuk melanjutkan kembali cara hidup Islam dan pendirian khilafah yang benar, yang berjalan pada metode kenabian. Oleh karena itu, para sipir penjara mulai menyiksa dia. Dengan berbagai cara mereka mencoba menghalangi dia dari Islam dan membuat dia kembali kepada ateisme. Namun, dia memegang teguh pendiriannya. Dia malah makin kuat ketaatannya kepada Allah SWT serta memiliki tekad dan kesabaran atas apa yang dia hadapi dari bencana penyiksaan di dalam penjara.
Pada tanggal 10/08/2015 para sipir penjara memindahkan Ann ke tempat tahanan lain. Di penjara tersebut para pemimpin penjahat (Jelola) sedang menunggunya, dan para penjahat itu memukuli Ann dengan kekuatan barbar dan brutal sehingga menyebabkan dia syahid, insya Allah. [rz/joy, berbagai sumber]